Talak

  1. A.    Talak
  2. 1.      Pengertian Talak

Secara etimologi thalak adalah bentuk masdar dari طلق dengan fathah lam-nya. Thalak berarti melepas dan meninggalkan.

Sedangkan secara terminologi thalak adalah melepaskan ikatan pernikahan secara keseluruhan atau sebagian.[1] Bisa juga diartikan dengan melepas ikatan perkawinan dengan lafadz thalak atau yang semakna, atau menghilangkan ikatan perkawinan dengan seketika atau rentang waktu jarak tertentu dengan menggunakan lafadz tertentu.

Perkataan thalak dalam istilah memiliki dua arti. Pertama, arti umum adalah segala macam bentuk perceraian baik yang dijatuhkan oleh suami, yang ditetapkan oleh hakim, maupun perceraian yang jatuh dengan sendirinya atau perceraian karena meninggalnya salah seorang dari suami atau istri. Kedua, dalam arti yang khusus adalah perceraian yang dijatuhkan oleh pihak suami.[2]

Legalitas mengenai talak pun dijelaskan dalam al-Quran maupun al-Hadits, diantaranya :

 

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut’ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik- baiknya.(QSS. Al-Ahzab : 49)

Selain itu, dalam hadits pula disebutkan sebagai berikut :

Hadits riwayat Ibnu Umar RA tuturnya, “Aku memiliki seorang istri yang sangat aku cintai, namun Umar (ayahku)tidak menyukainya. Ia berkata kepadaku, “Ceraikanlah dia” Namun aku menolaknya. Umar pun lantas menghadap Nabi SAW dan menceritakan hal tersebut kepada beliau. Nabi SAW akhirnya bersabda kepadaku ‘Ceraikanlah dia!’.”[3]

  1. 2.      Kedudukan Hukum Talak dalam Islam

Dalam suatu pernikahan tentu saja tidak selamanya berada dalam situasi yang damai dan tentram, tetapi kadang-kadang juga terjadi salah paham antara suami dan istri atau salah satu pihak melalaikan kewajibannya, kurang adanya kepercayaan pada pasangan dan penyebab terjadinya perpecahan lainnya.

Dalam keadaan seperti ini kadang bisa diatasi sehingga kedua belah pihak kembali membaik, tapi tidak sedikit juga yang terus-menerus dalam kesalah fahaman dan berlarut-larut sehingga terjadilah pertengkaran. Apabila suatu pernikahan yang demikian itu dilanjutkan, maka pembentukan rumah tangga yang damai dan tentram seperti yang disyariatkan oleh agama tidak tercapai. Dan ditakutkan pula perpecahan ini akan mengakibatkan perpecahan antara keluarga belah pihak. Maka dari itu untuk menghindari perpecahan keluarga yang makin meluas maka agama Islam mensyaratkan perceraian sebagai jalan keluar terakhir bagi suami-istri yang sudah gagal dalam membina rumah tangganya.[4]

Namun sebelum perceraian terjadi, Islam memberikan alternatif lain, yaitu selayaknyalah seorang suami bersabar bila ia tidak senang melihat kelakuan, QS. An-Nisa’:19

فان كرهتموهن فعسى ان تكرهوا شيئا ويجعل الله فيه خيرا كثيرا (النساء: ١٩)

Artinya:

”jika kamu membenci mereka (istrimu), (maka hendaklah kamu bersabar dan jangan segera menjatuhkan thalak), karena boleh jadi kamu membenci sesuatu, sedangkan Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya”. (an-Nisa’: 19)

Selain itu, Islam juga menganjurkan untuk member nasihat kepada istrinya atau bersikap nusyuz, QS. An-Nisa’: 34

واللاتى تخافون نشوزهن فعظوهن واهجروهن فى المضاجع فاضربوهن فان اطعنكم فلا تبغوا عليهن سبيلا ان الله كان عليا كبيرا (النساء: ٣٤)

Artinya:”Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (an-Nisa’: 34)

Dan jika terjadi pertengkaran dan perselisihan hebat antara kedua suami-istri, maka Islam menganjurkan supaya diadakan dua orang hakam (pendamai) antara keduanya, seorang dari keluarga suami dan seorang dari keluarga istri. Kedua pihak (utusan) tersebut berupaya untuk mendamaikan kedua suami-istri tersebut, jika tidak bias juga maka waktu itulah perceraian menjadi alternatif terakhir.

Disinilah kita tahu bahwa kedudukan perceraian atau thalak dalam Islam adalah sesuatu yang diperbolehkan, tapi juga tidak disukai (dibenci),[5] sebagaimana dalam sabda Rasulullah:

عن ابن عمر –رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله صلى الله علي وسلم: (أبغض الحلال إلى الله تعالى الطلاق). رواه أبو داود, وابن ماجه, وصححه الحاكم, ورجح أبو حاتم إرساله.

Artinya:”Dari Ibnu Umar RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “sesuatu yang halal namun paling dibenci disisi Allah adalah thalak”. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah) serta dinilai shahih oleh al-Hakim dan Abu Hatam mengunggulkan mursalnya”.[6]

Jika yang menuntut cerai adalah seorang istri, sedangkan gugatan cerai tersebut tanpa sebab, maka kelak dia tidak akan dapat mencium wangi syurga

  1. 3.      Macam-Macam Talak

Macam-macam thalak ditinjau dari segi boleh tidaknya ruju’ ada dua macam, diantaranya:

  1. Thalak Raj’ie

Thalak dimana seorang boleh ruju’ kembali, dan dengan syarat si suami sudah dukhul pada si istri.[7] Dan hal ini sesuai dengan firman Allah QS. At-Thaalaq: 1

ياأيها النبي إذا طلقتم النساء فطلقوهن لعدتهن وأحصوا العدة

Artinya:

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu”.

Thalak raj’ie juga bisa diartikan thalak satu atau thalak dua yang tidak disertai dengan uang ‘iwald dari pihak istri dan si suami berhak untuk rujuk selama masih masa iddah masa iddah.[8] Selain itu, tidak dipersyaratkan harus mendapat ridha dari pihak isterinya dan tidak pula, izin dari walinya.[9]

  1. Thalak Ba’in

Thalak ini juga dibagi dua macam, pertama, thalak ba’in syughro adalah thalak satu atau thalak dua yang disertai uang ‘iwald dari pihak istri. Pada thalak ini suami tidak boleh merujuk kembali istrinya dalam masa ‘iddah. Jika si suami hendak mengambil bekas istrinya kembali harus dengan perkawinan baru yaitu dengan melaksanakan akad nikah.

Kedua, thalak ba’in kubro adalah thalak yang ketiga dari thalak-thalak yang telah dijatuhkan oleh suami. Thalak ini mengakibatkan si suami tidak boleh merujuk atau menikahi kembali istrinya baik dalam masa ‘iddah maupun sesudah masa ‘iddah habis. Si suami boleh menikahinya lagi ketika telah memenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Istri telah kawin dengan laki-laki lain.
  2. Istri telah dicampuri oleh suaminya yang baru.
  3. Istri telah dicerai oleh suaminya yang baru.
  4. Telah habis masa ‘iddahnya.

Sedangkan macam-macam thalak jika ditinjau dari segi argumentasinya dibagi dua juga:

  1. Thalak Sunni

Thalak yang dijatuhkan mengikuti ketentuan al-Qur’an dan sunah Rasul. Yang termasuk thalak sunni adalah thalak yang dijatuhkan pada waktu istri dalam keadaan suci dan belum dicampuri dan thalak yang dijatuhklan pada istri yang sedang hamil. Menurut para ulama fiqih hokum thalak sunni adalah halal.

  1. Thalak Bid’i

Thalak yang dijatuhkan dengan tidak mengikuti ketentuan al-Qur’an maupun sunnah Rasul dan hukumnya adalah haram. Yang termasuk thalak bid’i:

  1. Thalak yang dijatuhkan pada istri yang sedang haid.
  2. Thalak yang dijatuhkan pada istri yang dalam keadaan suci tetapi telah dicampuri.
  3. Thalak yang dijatuhkan dua sekaligus, tiga sekaligus atau menthalak istrinya untuk selama-lamanya.

Namun para ulama berbeda pendapat dalam thalak bid’i ini. Menurut imam dari keempat madzhab, thalak bid’i meskipun haram tetapi tetap sah dan thalaknya jatuh, sunah hukumnya bagi suami yang meruju’ istrinya dalam thalak bid’i. sedangkan menurut Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, dan Ibnu Hazim, thalak bid’i adalh thalak yang haram yaitu thalak yang tidak sesuai sunah Rasul dan tiap amalan yang tidak sesuai dengan sunah Rasul maka amalannya tidak sah.[10]

Selain itu, talak dilihat dari sudut ta’liq dan tanjiz, yang mana redaksinya berbentuk munajazah dan mu;allaqah.

  1. Redaksi talak munajazah adalah pernyataan talak yang sejak dikeluarkannya pernyataan tersebut pengucap bermaksud untuk mentalaK, sehingga saat itu juga jatuhlah talak
  2. Redaksi talak mu’allaq, yaitu seorang suami menjadikan jatuhnya talak bergantung pada syarat. Misalnya, ia berkata kepada isterinya : إِنْ ذَهَبْتِ إِلَى مَكَانِ كَذَا فَاَنْتِ طَالِقٌ  yang artinya, “Jika engkau pergi ketempat itu, maka engkau ditalak”

Hukum talak ini apabila suami bermaksud hendak menjatuhkan talak ketika terpenuhinya syarat, maka jatuh talaknya sebagimana diinginkannya.

Adapun talak yang dimaksud suami dengan talak mu’allaq, adalah untuk menganjurkan (agar sang isteri) melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu atau yang semisalnya, maka ucapan itu adalah sumpah. Jika yang dijadikan bahan sumpah tidak terjadi, maka suami tidak terkena kewajiban apa-apa, dan jika terjadi, maka ia wajib membayar kafarah sumpah.

  1. 4.      Lafadz-lafadz yang Digunakan dalam Talak

Pada dasarnya, talak harus diungkapkan dengan kata-kata, namun dalam beberapa kondisi ia bisa digantikan dengan tulisan atau isyarat.

Talak shorih adalah talak yang difahami dari makna perkataan ketika diucapkan, dan tidak mengandung kemungkinan makna lain.[11] Misalnya ungkapan : “Kamu tertalak” (anti thaliq), “Aku menceraikanmu” (thallaqtuki), “Kamu tertalak” (anti muthallaqah), dan sejenisnya.

Ungkapan ini telah digunakan didalam al-Qur’an, yaitu dalam firman Allah :

  • Firman Allah SWT, “Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan…” (QS. Al-Ahzab : 49)
  • Firman Allah SWT, “Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut’ah menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang yang takwa” (QS. Al-Baqarah : 241)

Kalangan madzhab Syafi’I, Hanabila, dan Zhahiri mengabsahkan penggunaan kata “firaq” (pisah) dan “sirah” (lepas) seperti kata “talak” dalam kelugasannya menunjukkan arti perceraian, karena ketiga kata ini sama-sama digunakan didalam al-Qur’an untuk menunjukkan arti ini.[12] Sedangkan menurut pendapat Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, bahwa lafadz “firaq” (pisah) dan “sirah” (lepas) bukanlah ungkapan lugas untuk menunjukkan perceraian, melainkan lebih merupakan kiasan yang bisa berarti perceraian atau lainnya[13]. Hal ini didasarkan atas firman Allah yang menggunakan kata tersebut, tetapi tidak ada hubungannya dengan perceraian.[14]

Jika seseorang mentalak isterinya dengan ungkapan lugas, namun ia berniat lain, seperti bergurau atau mabuk, maka ia tetap jatuh (berlaku) dari segi legal formal. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi :[15]

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : ثَلاَثُ جِدُّ هُنَّ جِدٌّ, و هَزْلُهُنَّ جِدٌّ : النِّكَاحُ وَ الطَلاَقُ وَ الرَّجْعَةُ .

Artinya :

Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi SAW, Beliau bersabda, “ada tiga hal yang jika dikatakan dengan sungguh-sungguh menjadi, menjadi serius dan gurauannya jadi serius (juga) : nikah, talak, dan rujuk” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Adapun jika ada indikasi situasi (qarina al-hal) yang menunjukkan ketiadaan maksud melakukan talak, maka pernyataan tersebut disahkan (dianggap benar) secara legal formal, sehingga talak pun tidak jatuh.

Yang disyaratkan bagi orang yang mengucapkan kata cerai secara lugas adalah memahami pengertiannya dan mengucapkannya dengan kemauan sendiri (tanpa unsure paksaan), bukan keharusan berniat menjatuhkannya.

Talak kinayah, ialah redaksi talak yang mengandung arti talak dan lainnya. Jika tidak mengandung unsur talak sama sekali, maka bukanlah kiasan, melainkan hanya ungkapan sia-sia yang tidak berimplikasi apa-apa.

Contoh yang dianggap kiasan talak menurut sebagian ulama misalnya : “I’tadi” (ambillah masa iddahmu), “istabra’i rahimaki” (bersihkanlah rahimmu), “ilhaqi ahlaki” (pulanglah pada keluargamu), “anti khaliyyah” (kamu single/kosong), “anti muthlaqah” (kamu bebas lepas), dan sebagainya.

Dengan redaksi-redaksi talak diatas maka tidak terjadi talak, kecuali diiringi dengan niat. Jadi apabila sang suami menyertai ucapan itu dengan niat talak, maka jatuhlah talak; dan jika tidak terjadi talak :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّهُ عَنْهَا : أَنَّ ابْنَةَ الجَوْنِ لَمَّا دَخَلَتْ عَلَى رَسُوْلِ اللّهِ صَلَّى اللّه عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَدَنَا مِنْهَا قَالَتْ : أَعُوْذُبِاللَّهِ مِنْكَ. فَقَالَ لَهَا لَقَدْعُذْتِ بِعَظِيْمٍ أَلْحَقِيْ بِاَهْلِكِ

Artinya :

Dari Aisyah r.a berkata : Tatkala puteri al-Jaun menikah dengan Rasulullah SAW dan Beliau (kemudian) mendekatinya, ia mengatakan, A’uudzu billahi minka (aku berlindung kepada Allah darimu). Maka kemudian Beliau bersabda kepadanya, “Sungguh engkau telah berlindung kepada Dzat Yang Maha Agung; karena itu hendaklah engkau bergabung dengan keluargamu” (HR. an-Nasa’i)

Apabila terdapat inikasi situasi (qarinah al-hal) dalam pengucapan talak kiasan,maka oleh beberapa madzhab berbeda pendapat. Kalangan madzhab Hanafi dan madzhab Maliki menyatakan bahwa indikasi sesuatu (qarinah al-hal) bisa berposisi sebagai niat dalam menjatuhkan talak kiasan, sehingga menurut mereka dalam kondisi ini talak tetap jatu meskipun suami tidak berniat menceraikan isterinya. Namun, menurut kalangan madzhab Maliki dan Syafi’I, juga versi lan dari madzhab Hanbali, adalah sebaliknya.

  1. B.     Li’an
  2. 1.      Pengertian Li’an

Menurut bahasa arti li’an adalah diambil dari kata al-la’nu yang berarti mengusir dan menjauhkan.[16] Berarti juga laknat, yaitu sumpah yang di dalamnya terdapat pernyataan bersedia menerima laknat Allah apabila yang mengucapkan sumpah itu berdusta.[17] Bisa disimpulkan bahwa arti li’an secara bahasa adalah alla’nu bainatsnaini (saling melaknat yang terjadi pada dua orang atau lebih).

Definisi sumpah li’an secara terminologi bahwa ia adalah beberapa kesaksian yang dikuatkan dengan beberapa sumpah dari suami istri yang diiringi dengan laknat dan kemarahan.[18] Sedang, menurut istilah syar’i, li’an ialah sumpah dengan redaksi tertentu yang diucapkan suami bahwa istrinya telah berzina atau ia menolak bayi yang lahir dari istrinya sebagai anak kandungnya, dan kemudian sang istri pun bersumpah bahwa tuduhan suaminya yang dialamatkan kepada dirinya itu bohong.[19]

  1. 2.      Lafadz Yang Digunakan  & Prosedur Pelaksanaan Li’an

Berdasarkan nash al-Quran dan hadits-hadits yang shahih dalam masalah ini, maka dapat dirumuskan prosedur dan teknis pelaksanaan li’ab adalah sebagai berikut[20] :

  1. Pelaksanaan li’an diselenggarakan secara terbuka dengan dihadiri dan disaksikan oleh masyarakat umum.
  2. Kedua pasangan berdiri selama melakukan li’an agar bisa disaksikan oleh hadirin Disebutkan dalam hadits tentang isteri yang melakukan li’an : “Ia kemudian berdiri dan bersaksi[21]
  3. Sebelum kedua pe-li’an salimg melaknat, hakim mengingatkan keduanya untuk bertaubat. Nabi SAW dalam hadits Ibnu Abbas berkata kepada pasangan li’an, “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui bahwa salah satu diantara kalian telah berdusta, adakah diantara kalian yang hendak bertaubat.

Jika suami yang melontarkan tudingan zina menolak untuk melakukan li’an, maka menurut jumhur ulama ia langsung dikenai hukuman qadzaf  (cambuk empat puluh kali). Sementara menurut kalangan madzhab Hanafi, ia perlu ditahan sampai mau melakukan li’an atau mendustakan dirinya sendiri. Disini pendapat jumhur ulama lebih shahih, sebab hukuman (hadd) berlaku umum bagi setiap pelontar tuduhan zina, jika memang tidak bisa menghadirkan empat saksi. Jika suami menolak melakukan li’an, maka ia berstatus sebagai orang yang melontarkan tuduhan zina tanpa bisa menghadirkan saksi. Atau dengan kata lain, ia dikenai hukuman pasal menuduh zina tanpa bukti (80 cambukan)

  1. d.      Hakim mengawali proses li’an dari pihak suami terlebih dahulu, sembari menyuruhnya berdiri dan mengatakan kepadanya, “Katakanlah empat kali : Aku bersaksi atas nama Allah bahwa aku termasuk orang-orang yang benar dalam menuduh zina isteriku!” Sementara dalam prosesi li’an penyangkalan anak, hakim memerintahkannya untuk berkata empat kali : “Aku bersaksi dengan nama Allah, ia benar-benar telah berzina, dan anak itu bukan anakku!”

Permulaan li’an pada suami sebelum isteri merupakan syarat tersendiri bagi jumhur ulama, kecuali kalangan madzhab Hanafi.

  1. e.       Suami menyatakan empat kali berturut-turut : ”Aku bersaksi atas nama Allah bahwa aku termasuk orang-orang yang benar”
  2. Sebelum kesaksian yang kelima, hakim perlu memerintahkannya untuk meletakkan tangannya dimulut sembari berkata kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya ia benar-benar mengundang (siksa yang pedih jika kamu bohong)” agar ia tidak terburu-buru mengucapkan sumpah yang kelima sebelum hakim menasehatinya bahwa siksa dunia jauh lebih ringan daripada siksa akhirat. Hal ini disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas
  3. Jika si suami mundur dan menarik kembali apa yang dituduhkannya, maka ia dikenakan hukuman qadzaf (tuduhan zina tanpa bukti)
  4. h.      Jika ia tetap bersikukuh melanjutkan kesaksiannya, maka ia dipersilahkan untuk menyatakan kesaksian yang kelima : ”Dan laknat Allah atas diriku jika aku termasuk orang-orang yang berdusta” Dengan pernyataan ini gugurlah hukum qadzaf atas dirinya
  5. i.        Selanjutnya hakim berkata kepada kepada si isteri, “sekarang giliranmu menyatakan li’an. Jika tidak, kamu dikenai hukuman zina!”
  6. j.        Jika si isteri bersiteguh untuk melakukan li’an, maka ia diperhatikan untuk bersaksi sebanyak empat kali : “Aku bersaksi dengan nama Allah, bahwa diatermasukorang-orang yang berdusta”
  7. Sebelum sumpah kelima, hakim perlu menghentikannya sesaat guna menasihati dan memberitahukan kepadanya, bahwa ini bisa mengundang murka Allah
  8. Jika ia mundurmdan mengakui perbuatan zinanya, maka ia dikenai hukuman zina
  9. Sedangkan jika ia tetap menolak, maka ia diperintahkan untuk mengatakan, “Murka Allah atas diriku jika ia termasuk orang-orang yang benar” Apabila ia menyatakan demikian, maka gugurlah ancaman hukuman zina atas dirinya dan sempurnalah li’an dengan segala konsekuensi dan pengaruhnya.


[1] Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam, Syarah Bulughul Maram (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), 555.

[2] Ny. Soemiyati, S.H, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan (Yogyakarta: Liberty, 2004), 103.

[3] Hadits shahih.Ditakhrij oleh Abu Daud (2283), an-Nasa’I (6/213), Ibnu Majah (2016), dan lain-lain

[4] Ny. Soemiyati, S.H, op.cit., 104.

[5] Prof. DR. H. Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan Dalam Islam Menurut Mazhab Syafi’i Hanafi Maliki Hanbali (Jakarta: P.T. Hidakarya Agung, 1989), 112.

[6] Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam, Syarah Bulughul Maram (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), 557.

[7] Imam al-Qadhi Abu al-Walid Muhammad bin ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Rusydi al-Qurthubi al-Andalusi, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid al-Juz’u al-Tsani (Surabaya: al-Hidayah), 45.

[8] [8] Ny. Soemiyati, S.H, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan (Yogyakarta: Liberty, 2004), 109

[9] ‘Abdul ‘Azhimbin Badawi al-Khalafi, al-Wajiz, (Jakarta : Pustaka as-Sunnah, 2008), hlm 636

[10] Ibid, 109-110.

[11] Abu Malik Kamal bin as-Sayid Salim, Shahih Fiqh Sunnah, (Jakarta : Pustaka Azzam, 2007), hlm. 394

[12] Terdapat dalam QS. Ath-Thalaaq : 2, QS. An-Nisaa : 130, QS. Ali-Imraan : 4

[13] Abu Malik Kamal bin as-Sayid Salim, ibid, hlm. Hlm. 395

[14] Terdapat dalam QS. Ali-Imraan : 103, al-Bayyinah : 4 dan al-Ahzaab : 49

[15] ‘Abdul ‘Azhimbin Badawi al-Khalafi, ibid , hlm. 629

[16] Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam, op.cit., 627.

[17] Ny. Soemiyati, S.H, op.cit., 119.

[18] Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam, loc.cit.

[19] Prof. Dr. Abdul Karim Zaidan, al-Mugashshal fi Ahkamil Mar-ah Wal Baitil Muslim Fisy Syari’atil Islamiyah VIII (Beirut: Muassasah Risalah), 320-321.

[20] Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Op.cit, hlm. 615-618

[21] Hadits shahih. Dikutip dari hadits Ibnu Abbas mengenai kisah li’an Hilal bin Umayyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s