Penetapan Hukum Pada Masa 4 Madzhab

Munculnya Madzhab

Berawal dari  pentingnya sebuah hukum itu dibukukan, maka sejak masa akhir pemerintahan Bani Umayyah gagasan untuk menulis sebuah hukum itu sudah ada. Imam madzhab dulunya tidaklah hanya berjumlah empat seperti yang kita ketahui, akan tetapi ulama’ madzhab Fiqh pada eranya, muncul sekitar tiga belas madzhab yang semuanya berafiliasi sebagai madzhab yang “Ahlu Sunnah” tetapi hanya sembilan madzhab saja yang dapat diketahui dasar dan metode fiqihnya, beliau adalah:

  1. Imam Abu Sa’id Bin Yasar Al-Bashri (wafat 110 H)
  2. Imam Abu Hanifah Al-Nu’man Bin Tsabit ( wafat 150 H)
  3. Imam Auza’ie Abu Amr Abdur Rahman  (wafat 157 H)
  4. Imam Sufyan Bin Syaid Bin Masruq ( wafat 179 H)
  5. Imam Sufyan Bin Uyainah (wafat 198 H)
  6. Imam Muhammad Bin Idris As Syafi’i ( wafat 204 H)
  7. Imam Ahmad Bin Muhammad Bin Hambal ( wafat 241 H)

Sembilan Imam Madzhab di atas berlomba untuk memperoleh legitimasi sebuah madzhab yang dapat diakui dan dijadikan pedoman dalam mengambil sebuah hukum. Sembilan imam madzhab di atas, seluruhnya berpencar ke wilayah-wilayah yang berbeda, seperti madzhab imam maliki di madinah, imam abu hanifah di kufah, imam hasan basri di basrah, imam auza’i di syam, imam syafi’i di mesir, imam ahmad bin hambal di baghdad. Akan tetapi dengan perjalanan waktu yang sangat panjang sekitar 600 tahun lamanya, diantara mereka semua, hanya imam empat saja yang masih eksis dalam ranah pengkajian ilmu fiqihnya.ulama’ imam madzhab lainya hilang satu persatu, itu disebabkan ranah waktu yang sangat panjang, melalui uji coba, vertifikasi dan operasional[1] dalam ruang dan waktu yang sangat panjang yakni dalam generasi Taqlid demi menadapatkan legitimasi sebuah madzhab yang baku.

2.2 Kondisi Sosial, Politik, Dan Keilmuan

Kondisi sosial pada masa Imam Abu Hanifah, dimasanya, dalam menetapkan hukum islam, beliau dipengaruhi kondisi sosial di kufah yang kurang tentang perbendaharaan ilmu hadist, disamping itu, kufah sebagai kota yang berada ditengah kebudayaan persia yang masyarakatnya sudah mencapai peradaban yang cukup tinggi.oleh sebab itu banyak muncul problema kemasyarakatan yang memerlukan penetapan hukum. Serta banyaknya pemalsuan hadist yang sehingga menyulitkan imam abu hanifah dalam penetapan hukum, karna ini beliau dalam menetapkan hukum islam banyak menggunakan ra’yi.[2]

Kondisi sosial pada masa Imam Malik, dalam masanya, beliau pernah berbeda pendapat dengan khalifah al manshur dari golongan bani abbas di bagdad tentang masalah “paksaan talak itu tidak sah”, imam maliki tetap berpegang teguh pada pendapatnya dan tidak mau mencabutnya, akhirnya imam malik disiksa dan dipenjara[3]

Kondisi sosial pada masa Imam Syafi’i, dalam masanya, beliau kesulitan dalam menetapkan hukum karna faktor tempat, seperti keadaan wilayah di Irak dan Mesir, dengan adanya perbedaan tempat tersebut, imam syafi’i menela’ah kitab-kitab fiqh dan memadukan dengan ilmu hadist yang beliau miliki.[4]

Kondisi sosial pada masa Imam Ahmad Bin Hambal, pada masanya, beliau dilahirkan di baghdad yang ruang lingkup daerahnya sebagai ibu kota khilafah islamiyah pada masa itu, jelas lebih ramai dan kebudayaanya lebih maju dari pada hijaz pada umumnya. Dalam keadaan seperti inilah beliau mengembangkan ajaran islam.[5]

Faktor penyebab mundurnya fiqh termasuk di dalamnya adalah faktor politik yang menyebabkan terpecahnya pemerintahan islam menjadi beberapa negara kecil, yang dari mereka sama-sama mempertahankan apa yang di dapatnya, yang sehingga menimbulkan peperangan di antara mereka dan melupakan ilmu pengetahuan.[6] Merka hanya mengikuti pendapat imam sebelumnya, dengan kata lain tidak memahami seluk beluk kenapa hukum tersebut di tetapkan di daerah masing-masing. Fase ini adalah fase yang terkenal dengan sebutan masa Taqlid

Untuk Keilmuan pada masa itu bisa dibilang sangat dinamis, karna pemerintahan abasiyah sangat memperhatikan secara khusus terhadap perkembangan hukum islam, terlebih tergadap ulama’- ulama’nya. Secara politis, kekuasaan dinasti abasiyah pada era itu sudah meluas telah meluas hingga ke wilayah persia, India, dan Rusia selatan dengan pusat ibu kotanya berada di bagdad. Pendapat – pendapat imam madzhab selalu dijadikan sebagai marja’ atau sumber untuk memecahkan berbagai masalah. Akan tetapi disamping perkembangan keilmuan madzhab itu terjadi, secara tidak sadar menjadi munculnya pemikiran stagnan di sebagian  komunitas muslim lain yang mana mereka berasumsi bahwa hasil ijtihad para Imam madzhab adalah sebuah produk final[7] dan akhirnya mereka hanya menganggap satu madzhab yang benar dan selainya adalah salah.

2.3 Faktor Umum Perbedaan

Secara terminologis fiqhiyyah, ikhtilaf adalah perselisihan paham atau pendapat dikalangan para ulama’ fiqh sebagai hasil ijtihad untuk mendapatkan dan menetapkan sesuatu ketentuan hukum tertentu. Menurut Huzaimah Tahido Yanggo ikhtilah ialah tidak samanya penilaian (ketentuan) hukum terhadap satu obyek hukum.[8]

Berlandaskan sebuah kaidah اختلاف امتى رحمة maka dapat ditarik pemahaman, bahwa dalam setiap perkumpulan yang menimbulkan perbedaan penadapat adalah sebuah rahmat. pendapat madzhab merupakan sebuah kajian para ahli fuqoha’(Mujtahidin) beserta dalilnya mengenai berbagai masalah yang disepakati maupun yang diperselisihkan. Perbedaan umumnya terletak pada :

  1. Imam Abu Hanifah lebih banyak menggunakan nalar atau ra’yi,
  2. Imam Malik terkenal sebagai ahlu hadist
  3. Imam Syafi’i terkenal dengan Ahlul Hadist, Qoul Qodim = di dalam kitabnya al Hujjah dan qoul jadid   = di dalam kitabnya al Umm
  4. Imam Ahmad Bin Hambal terkenal dengan Ahlul Hadist

2.4 Epistimologi Imam Empat Madzhab

2.4.1 Biografi

A. Madzhab Hanafi

Madzhab hanafi merupakan madzhab yang paling tua di antara emapat madzhab Ahli Sunnah Wal Jama’ah yang populer. Madzhab ini di nisbatkankan kepada imam besar Abu Hanifah An-Nu’man Bin Tsabit Bin Zutha At Tamimi, lahir di kufah tahun 80 H dan wafat di bagdad pada tahun 150 H.

Imam Abu Hanifah lahir dari keluarga yang baik yang dalam masa hidup keluarganya, pernah di ceritakan bahwa ayahn imam  abu hanifah “ tsabit” bertemu dengan shabat ali bin abi thalib, dan beliau mendoa’kan keluarganya semoga diberi berkah oleh Allah SWT. Selama masa hidup imam abu hanifah, beliau belajar menata hidup dari berdagang yang mana dalam kurun perjalananya berjualan beliau imam abu hanifah diberi nasehat oleh Imam Asy Sya’bi. Beliau mengatakan kepada imam abu hanifah untuk mencari ilmu, dan meninggalkan berdagang, karna di mata asy syu’bi imam abu hanifah mempunyai bakat yang tidak dimiliki oleh orang lain.Akhirnya imam abu hanifah menjalankan amanat dari Imam Asy Syu’bi dan mempelajari serta menguasai ahli di bidang Ilmu Fiqh[9].

B. Madzhab Maliki

Madzhab maliki didirikan oleh imam malik bin ana bin ‘amir al-ashbahi, dari keturunan arab, ayahnya berasal dari kabilah dzi ashbah di yaman, dan ibunya bernama aliyah binti syuraik dari kabilah azdi[10].beliau di lahirkan di madinah pada tahun 93 H dan wafat pada tahun 173 H/801 M di tempat kelahiran asal.madzhab ini adalah madzhab urutan kedua setelah madzhab imam abu hanifah. Baliau dilahirkan dari keluarga yang tidak kaya , akan tetapi “himmah” ( rasa keinginan)nya untuk mempelajari serta memahami sebuah ilmu sangatlah tinggi dan patut untuk ditiru, dalam perjalanan menitih ilmunya, beliau imam malik sejak kecil sudah hafal Al qur’an dan di didik oleh seorang tabi’in ahli dalam bidang Qiro’at, dan Hadist. Dari rengang waktunya. Imam malik juga mangkaji ilmu fiqh secara mendalam, oleh sebab itu beliau dijuluki ahli hadizt dan fiqh.

 

C. Madzhab Syafi’i

Madzhab syafi’i didirikan oleh Imam Abu Abdillah Muhammad Bin Idris Bin Al Abbas Bin Syafi’i, dari suku quraisy, dan bertemu nasabnya dengan rosulullah SAW pada abd manaf. Imam Syafi’i lahir di gaza pada tahun 150 H dan wafat di mesir pada tahun 204 H. Ibunya keturunan yaman dari kabilah azdi dan memiliki jasa yang besar dalam mendidik imam syafi’i. Imam syafi’i di tinggal ayahnya sejak kecil, dan ibunyalah yang mendidiknya. Imam syafi’i lahir dari keluarga biasa, akan tetapi kemampuan memahi sebuah ilmu sangatlah tinggi. Beliau sudah hafal al-Qur’an sejak kecil sebelum beliau hijrah ke Mekkah untuk mencari nasab tertingginya serta menitih ilmu di sana. Imam Syafi’i terkenal dengan sosok seorang yang haus ilmu sampai beliau pernah menetapkan hukum yang dikenal dengan sebutan qoul qodim dan qoul jadidnya.yang mana qolu qodimnya itu dilakukan di bagdad, sedangkan qoul jadidnya berada di mesir[11].

D. Madzhab Imam Ahmad

Nama lengkap dari madzhab hanafi ialah ahmad bin muhammad bin hambal al syaibani al marzawi. Beliau dilahirkan di marwa pada tahun 164 H/ 778 M dan wafat pada tahun 241 H/ 855 M di bagdad, Iraq. Beliau menjadi Imam Madzhab pada masa dinasti kekhalifahan al Ma’mun yang yanhg sangat fanatik terhadap paham Mu’tazilah, atas dasar itu, al Ma’mun menetapkan dasar ini menjadi faham utama negara, dan imam hambali tidak setuju dengan pendapat Mu’tazilah yang mengatakanbhawa al Qur’an adalah sebuah makhluq baru. Imam ahmad adalah seorang pencari ilmu yang pindah dari satu tempat ke tempat lain, beliau pernah menimba ilmu dan mengembara di wilayah kuffah, basra, madinah, makkah dan yaman.[12] Bahkan sampai merantau sebanyak lima kali ke Basrah dan Hijaz. Di makkah beliau bertemu dengan Imam Syafi’i dan belajar Hadist. Diantara perjalanan beliau yang paling sulit adalah perjalanan mencari hadist dan mendengar dari perawinya secara langsung untuk memastikan periwayatanya.

2.4.2 Guru

Imam Abu Hanifah di antaranya Hammad Bin Sulaiman, dari golongan tabi’in seperti Atha’ Bin Abi Rabah, dan Nafi’ pembantunya Ibn Umar

Imam Malik di antaranya Abdurrahman Bin Hurmuz, Muhammad Binmulim Bin Syihab , Abu Az Zannad, Abdullah Bin Zakwan (Belajar Ilmu Hadist), Yahya Buin Sa’id (Belajar Ilmu Fiqh Dan Periwayatan)Rabi’ah Bin Abdirrahman (Belajar Fiqh Logika)

Imam Syafi’i di Makkah di antaranya Muslim Bin Khalid, dan di Madinah guru beliau adalah Imam Malik, Dan Muhammad Bin Al Hasan Asy- Syaibani, Sufyan Bin Uyainah Dan Abdurrahman Bin Mahdi[13]

Imam Ahmad di antaranya Imam Syafi’i sebagai guru uilmu hadistnya.

2.4.3 Murid

Imam Abu Hanifah Diantaranyya Abu Yusuf, Muhammad Bin Al Hasan Asy Syaibani, Zufar Bin Huzail, Al Hasan Bin Zaid Al Lu’lu’i

Imam Malik diantaranya Abdurrahman Al Qosim Yang Meriwayatkan Kitab Al Muwaththa’, Asyhab Bin Abul Aziz Abu Hasan Al Qurthubiy

Imam Syafi’i diantaranya di Iraq Az Za’farani, Imam Ahmad Bin Hambal, Al Husain Bin Ali yang dikenal dengan Al Karabisi. murid beliau yang di Mesir di antaranya Abu Ya’qub Yusuf Bin Yahya Al Buthi, Ismail Bin  Mahya Al Muzani, Ar Rabi’ Bin Sulaiman Al Muradi yang meriwayatkan Kitab Al Umm

Imam Ahmad diantaranya Abu Bakat Al Asyram, Abdul Malik Al Maimuni, Abu Bakar Al Marwaruzi, Umar Bin Abi Ali Al Husain Al Hazmi[14]

2.4.4 Metode Istidlal  

Imam Abu Hanifah menggunakan     : Al-Qur’an, As Sunnah, pendapat sahabat yang dianggapnya benar, dan berijtihad.

Imam Maliki menggunakan               : Al-Qur’an, as sunnah,

Imam Syafi’i menggunakan               : Al-Qur’an, As Sunnah, Ijma’, Qiyas

Imam Ahmad menggunakan              : Al-Qur’an, As Sunnah, pendapat sahabat, fatwa para sahabat nabi yang timbul dalam perelisihan, Hadist Mursal dan Hadist Dha’if, Qiyas

2.4.5 Karya Karyanya

Imam Abu Hanifah       : Fiqh Akbar, Al-‘Alim Wa Al Muta’alim, Musnad Fiqh Akbar

Imam Malik                   : Al- Muwatha’, Al Mudawanah Al-Kubra

Imam Syafi’i                  : Al- Umm, Al Risalah, Ikhtilaf Malik Wa Al Syafi’i Dll

Imam Ahmad                : Al-Musnad, Tafsir Al-Qur’an, Al Nasikh Mansukh, Al Shalah


[1] Mun’im A. sirry , Sejarah fiqih islam ( islamabad 1995), 82

[2] Huzaimah Tahido  Yanggo Pengantar Perbandingan Madzhab (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997), 99

[3] Ibid, 105

[4] Ibid, 12

[5] Ibid ,143

[6] Ibid , 92

[7] H. Roibin Penetapan Hukum Islam Dalam Lintasan Sejarah (Malang : UIN Maliki pres : 2010) hal 67

[8] Mardani Hukum Islam Pengantar Ilmu Hukum Islam di Indonesia ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar: 2010) hal 90

[9] Raysyad Hasan Khalil Tarikh Tasyri’ ( Jakarta: AMZAH 2009) hal 172

[10] Ibid) 178

[11] Roibin  Sosiologi Hukum Islam Telaah Sosio Historis Pemikiran Imam Syafi’i (Malang, UIN Maliki Pres: 2008), hal 77

[12] H. Roibin penetapan hukum islam dalam lintasan sejarah (Malang : UIN Maliki pres : 2010), hal 80

[13] Raysyad Hasan Khalil Tarikh Tasyri’ ( Jakarta: AMZAH 2009) hal 188

[14] Ibid 197

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s