Larangan Menikah Dengan Orang Musyrik

  1. Analisis Lafadz

وَلا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Artinya :

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (Qs. Al Baqarah [2]: 221)

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلا الْمُشْرِكِينَ

Artinya :

Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. (Al-Baqarah, 2; 105)

وَلَامَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْأَعْجَبَتْكُمْ

Sesungguhnya wanita hamba sahaya yang beriman, meskipun tidak berharta dan rendah kedudukannya lebih baik dari pada seorang wanita musyrik merdeka dengan segala kemuliaan kemerdekaan dan kemuliaan nasibnya, meskipun ia sangat menarik hatimu dengna kecantikan dan harta yang ia miliki serta hal-hal lain yang menyebabkan seorang lelaki akan terpikat karenanya.[1]

Dengan iman seorang wanita akan mencapai kesempurnaan agamanya, dan dengan harta dan kedudukannya ia memperoleh kesempurnaan dunianya. Memelihara agama lebih baik dari pada memelihara urusan dunia, apabila tidak mampu memelihara keduanya. Dengan demikian, maka sempurna pulalah manfaat duniawiyahnya dengan tercapainya suatu kehidupan rumah tangga yang harmonis, yang saling menjaga dan memelihara baik diri maupun harta, serta mendidik anaknya dengan pendidikan yang baik dan menghiasi anaknya dengan akhlak yang mulia. Maka jadilah mereka contoh yang baik bagi sesamanya.

Ibnu majah meriwayatkan sebuah hadis dari sahabat umar ra. Bahwa Nabi saw pernah bersabda :

 

لَاتُنْكِحُوْا النِّسَأَ لِحُسْنِهِنَّ, فَعَسَى حُسْنَهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ, وَلَا تُنْكِحُوْهُنَّ عَلَى أَمْوَالِهِنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ, وَأَنْكِحُوْهُنَّ عَلَى اّلدِيْنِ, فِلاَمَةٌ سَوْادَءِ ذَاتُ دِيْنٍ أَفْضَلُ.

 

Artinya :

Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya akan mengundang malapetaka. Dan janganlah kalian menikahi wanita karena harta bendanya, bisa jadi harta bendanya akan membuatnya berlaku semena-mena. Dan nikahilah wanita karena agamanya. Sungguh budak wanita hitam dan beragama itu lebih baik.

  1. Asbabun Nuzul

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya“wa la tankihul musyrikati hatta yuminna” (S. 2:221)َ Sebagai petunjuk atas permohonan Ibnu Abi Murtsid Al-Ghanawi yang meminta izin kepada Nabi SAW untuk menikah dengan seorang wanita musyrik yang cantik dan terpandang.[2]

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kelanjutan ayat tersebut di atas, dari mulai “wala amatun mu’minatun khairun sampai akhir ayat (S. 2:221), Berkenaan dengan Abdullah bin Rawahah yang mempunyai seorang hamba sahaya wanita. Pada suatu waktu ia marah kepadanya, sampai menamparnya. Ia sesekali kejadian itu, lalu menghadap rasulullah untuk menceritakan hal itu : Saya akan memerdekakan dia dan mengawininya lalu ia laksanakan. Orang-orang pada waktu itu mencela dan mengejeknya atas perbuatannya itu.

Ayat tersebut diatas menegaskan bahwa menikahi seorang hamba sahaya muslimah lebih baik daripada menikahi seorang wanita cantik nan terpandang namun dia musyrikah.

  1. Pendapat Ulama’

Suatu golongan mengatakan bahwa Allah telah mengharamkan menikahi wanita-wanita musyrik dalam surah Al-Baqarah, kemudian sebagian dari wanita-wanita musyrik tersebut (wanita-wanita ahlul kitab) dinasakh~, dimana Allah telah menghalalkan mereka dalam surah Al-Maa’idah. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, pendapat ini pun dikemukakan oleh Malik bin Anas, Sufyan bin Sa’id, Ats Tsauri, dan Abdurrahman bin Amru Al Auza’i.

Qatadah dan Sa’id bin Jubair berkata, “Lafadz ayat ini bersifat umum (sehingga mencakup) setiap wanita kafir, namun yang dimaksud adalah (makna yang) khusus, yaitu wanita-wanita Ahlul Kitab. Makna yang khusus ini dijelaskan oleh aya dalam surah Al Maa’idah, sedangkan yang umum sama sekali tidak mencakup wanita-wanita Ahlul Kitab.”

Ishak bin Ibrahim Al Harabi berkata, “sekelompok orang berpendapat untuk menjadikan ayat dalam surah Al Baqarah sebagai ayat yang menasakh (menghapus), sedangkan ayat dalam surah Al Maa’idah sebagai ayat yang dinasakh. Mereka mengharamkan menikahi setiap wanita musyrik, baik Ahlul Kitab maupun non Ahlul Kitab.

Nafi’ berkata, “Bahwa Abdullah bin Umar jika ditanya tentang seorang lelaki yang akan menikahi wanita Nasrani atau Yahudi, maka dia menjawab, ‘Allah telah mengharamkan wanita musyrik kepada orang-orang yang beriman. Sementara aku tidak mengetahui suatu kemusyrikan yang lebih besar daripada seorang wanita yang mengatakan bahwa tuhannya adalah Isa, atau salah satudari hamba-hamba Allah’.”

An Nuhas berkata, “pendapat ini berbeda dengan pendapat segolongan orang yang ditopang oleh hujjah. Sebab ada segolongan orang baik dari kalangan sahabat maupaun tabi’in yang menyatakan bahwa menikahi wanita Ahlul Kitab adalah halal. Di antara orang-orang yang mengemukakan pendapat ini adalah utsman, thalhah, ibnu abbas, jabir dan hudzaifah. Sedangkan dari kalangan Tabi’in adalah Sa’id bin Al Musayyab, sa’id bin jubair, Al Hasan, Mujahid, Thawus, Ikrimah, AsySya’bi dan Adh Dhahak.

Para fuqaha dari berbagai daerah juga menganut pendapat ini. Selain itu, ayat dalam surah Al Baqarah ini merupakan hal pertama yang diturunkan di Madinah, sedangkan ayat dalam surat Al Maa’idah adalah hal terakhir yang diturunkan disana. Sehingga ayat yang terakhir turun dapat menasakh ayat yang lebih dulu, (bukan sebaliknya).

  1. Hukum Menikahi wanita Musyrik

Allah berfirman :

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

…Dan dihalalkan mengawini wanita-wanita yang menjaga kehormatan diantara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu (Al-Maidah, 5; 5)

Hikmah yang terkandung dalam peraturan ini ialah , agar para ahli kitab dapat melihat bagaimana kita memperlakukan seorang istri, dan betapa mudahnya syariat agama kita. Seorang lelaki ialah pemimpin, pelindung dan penguasa bagi wanita. Apabila ia memperlakukan istrinya dengan perlakuan yang baik, maka hal ini merupakan bukti bahwa agama islam mengajak terhadap keadilan dan kesadaran dalam berMua’amalah serta sikap berlapang dada terhadap orang yang berselisih agama.

Adapun kawinnya seorang lelaki ahli kitab dengan permpuan muslimah, menurut Nas Sunnah dan Ijma’ kaum muslimin haram hukumnya. Hal ini seperti yang diketahui, ditambahkan seorang istri tidak mempunyai hak sebagaimana yang dimiliki oleh seorang suami. Oleh sebab itu faedah yang telah diuraikan diatas tidak akan bisa terujud, mengingat kekuasaan seorang suami jauh labih besar daripada seorang istri. Dikhawatirkan ia akan menyimpangkan dan merusakkan akidah isrtinya.

Allah telah menjelaskan larangan menikahi orang musyrik baik lelaki maupun perempuan, melalui ayat :

أُوْلَئِكَ يَدْعُوْنَ إِلَى النَّارِ

Sesungguhnya sudah menjadi kebiasaan orang musyrik baik lelaki maupun wanita, selalu mengajak kepada hal yang menyebabkan masuk neraka baik melalui ucapan maupun perbuatan. Dalam hal ini ikatan perkawinan merupakan sarana yang paling kuat utnuk menpengaruhi jiwa seseorang. Dan saling memberikan kemudahan dalam banyak hal, merupakan landasan dalam berumah tangga. Dalam keadaan seperti ini tidak mustahil akidah syirik bisa masuk ke dalam jiwa mukmin dan mukminah, tanpa disadari melalui berbagai macam Syubhat dan penyesatan. Orang musyrik menyembah sesembahan selain Allah. Akan tetapi mereka tidak menamakan perbuatan ini sebagai ibadah. Mereka bahkan mengistilahkan perbuatan ini dengan memohon Syafat dan Tawassul (perantaraan). Mereka mengambil tuhan dan sesembahan selain Allah kemudian menyebutnya dengan Wasilah dan perbuatan Syafaat. Mereka juga mengira bahwa dengan mengganti nama bisa merubah hakikat sesuatu sebagaimana firman Allah swt :

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?”[678] Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). (Yunus, 10: 18)


[1] Syekh al qurtubi. tafsir al Qurtubi. Hlm. 143

[2] KH. Qamaruddin Saleh, dkk. Asbabun Nuzul Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat Al-Qur’an. Hlm 214,

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s