Khitbah

A.    Pengertian Khitbah

Kata peminangan berasal dari kata”pinang, meminang”. Meminang sinonimnya adalah melamar, yang dalam bahasa arab disebut”khitbah”. Menurut etimologi meminang atau melamar adalah meminta wanita untuk dijadikan istri. Menurut terminologi peminangan ialah kegiatan atau upaya kearah terjadinya hubungan perjodohan antara seorang pria dengan seorang wanita atau seorang laki-laki meminta kepada seorang perempuan untuk menjadi istrinya, dengan cara-cara yang umum yang berlaku ditengah-ditengah masyarakat.

  1. B.     Tata Cara Mengkhitbah

Seseorang melakukan khitbah bisa dengan dua cara: Bisa dengan Bahasa yang Jelas (Sarih) atau bisa dengan bahasa Kiasan (Ta’ridhan). Bahasa yang Jelas (Sarih) adalah lafadz yang tidak mengandung dari selain lafadz nikah Seperti : Saya ingin menikahi kamu”atau “ Saya meminta kamu untuk menjadi istri saya”. Sedangkan bahasa kiasan adalah bahasa sindiran yang secara tidak langsung mengajak untuk menikah, seperti “ Sesungguhnya engkau termasuk orang yang mulia” atau “ Hati saya ini sudah tertambt dalam diri engkau” dll. Hal ini dilakukan kepada wanita-wanita yang didalam ‘iddah kematian suami mereka atau karna talak ba’in berdasarkan ayat al-Qur’an dari surah al-Baqarah ayat 235,Allah telah berfirman: dan tidak ada dosa bagimu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kamu sembunyikan(keinginanmu) dalam hati.

  1. C.    Syarat-syarat Perempuan yang Boleh Dipinang:
  • Tidak dalam pinangan orang lain,
  • Pada waktu dipinang, perempuan tidak ada penghalang syarak yang melarang dilangsungkanya pernikahan,misalnya perempuan yang bersuami, wanita yang haram dinikahi dalam waktu tertentu atau selamanya.
  • Perempuan itu tidak dalam masa idah kerena talak raj’i
  • Apabila perempuan dalam masa idah karena talak ba’in, hendaklah meminang dengan cara sirri.[1]
  1. D.    Melihat Wanita yang Dilamar

Untuk kebaikan dalam kehidupan berumah tangga kesejahteraan dan kesenanganya, seyogyanya laki-laki melihat dulu perempuan yang akan dipinangnya sehingga ia dapat menentukan apakah peminangan itu diteruskan atau dibatalkan. Dalam agama islam, melihat perempuan yang akan dipinang itu diperbolehkan selama dalam batas-batas tertentu, dan dalam masalah ini tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama. Diantara yang menguatkan atas hal itu adalah firman Allah ta’ala dalam surat ak-Ahzab:52:

لَا يَحِلُّ لَكَ النِّسَاءُ مِنْ بَعْدُ وَلَاأَنْ تَبَدَّ لَ بِهِنَّ مِنْ أَزْوَجٍ وَلَوْ أَعْجَبَكَ حُسْنُهُنَّ

Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh(pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain), meskipun kecantikanya menarik hatimu.”(Q.S.Al-Ahzab:52)[2]

Dari Mughirah bin syu’ban, ia meminang seorang perempuan, lalu Rosulullah Saw.bertanya kepadanya: sudahkah kau lihat dia? Ia menjawab: belum. Sabda nabi: lihatlah dia lebih dahulu agar nantinya kamu bisa hidup barsama lebih langgeng.(H.R. Nasa’I, Ibnu Majah, dan Tirmidzi).[3]

Mengenai bagian badan wanita yang boleh dilihat ketika dipinang, para fuqaha berbeda pendapat. Imam Malik hanya membolehkan pada bagian muka dan dua telapak tangan. Fuqaha yang lain(seperti Abu Daud al-Dhahiri) membolehkan melihat  seluruh badan, kecuali dua kemaluan, sementara fuqaha yang lain lagi melarang melihat sama sekali. Sedangkan Imam Abu Hanifah membolehkan melihat dua telapak tangan, muka, dan dua telapak kaki.

Silang pendapat ini disebabkan karena dalam persoalan ini terdapat suruhan untuk melihat wanita secara mutlak, terdapat pula larangan secara mutlak, dan ada pula suruhan yang bersifat terbatas, yakni pada muka dan dua telapak tangan, berdasarkan pendapat mayoritas ulama’berkenaan dengan firman Allah:

وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتُهُنُّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Dan janganlah(kaum wanita)menampakan perhiasanya, kecuali yang(biasa) tampak daripadanya(Q.S.An-Nur[24]:31)

Maksud”perhiasan yang biasa tampak daripadanya” adalah muka dan dua telapak tangan. Disamping itu juga diqiyaskan dengan kebolehan membuka muka dan dua telapak tangan pada waktu berhaji, oleh kebanyakan fuqaha.

Berdasarkan salah satu riwayat dari Abu Razaq dan Said bin Mansur, Umar pernah pernah meminang putrid Ali yang bernama Ummu Kulsum. Ketika itu Ali menjawab bahwa putrinya masih kecil. Kemudian Ali berkata lagi:”nanti akan saya suruh dating lagi Ummu Kulsum itu kepadamu, bilamana engkau suka, engkau dapat menjadikannya sebagai calon istri. “Setelah ummu kulsum datangn kepada umar, lalu umar membuka pahanya, serentak ummu kulsum berkata:”seandainya tuan bukan seorang khalifah, tentu sudah saya colok kedua mata tuan.

Bilamana seorang laki-laki melihat bahwa pinanganya ternyata tidak menarik, hendaklah dia diam dan jangan mengatakan sesuatu yang menyakitkan hatinya, sebab boleh jadi perempuan yang tidak disenanginya itu akan disenangi orang lain.[4]

Kesimpulan tentang batas yang diperbolehkan bagi peminang ketika melihat wanita yang dipinangnya,”bahwasanya bila seorang pria ingin meminang seorang wanita maka wanita tersebut harus memperlihatkan wajah dan kedua telapak tangannya, sebagaimana dikatakan oleh jumhur ulama. Adapun jika dia melihat dengan cara mengintip, maka ia boleh melihat bagian manapun dari wanita yang dipinangnya yang akan membuatnya kian termotivasi untuk menikahinya.[5]

  1. E.     Meminang Pinangan Orang Lain

Meminang pinangan orang lain itu hukumnya haram, sebab berarti menghalangi hak dan menyakiti hati peminang pertama, memecah belah hubungan kekeluargaan dan mengganggu ketentraman. Hukum tersebut berdasarkan sabda nabi Saw:

المُؤْ مِنُ أَخُوْ المُؤْمِنُ فَلَا يَحِلُّ لَهُ اَنْ يَبْتَاعَ عَلَى بَيْعِ أَخِيْهِ وَلَا يَخْطُبُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيْهِ حَتَّى يَدْ رِىْ

“Orang mukmin dengan mukmin adalah bersaudara, maka tidak boleh ia membeli barang yang sedang dibeli saudaranya, dan jangan meminang pinangan saudaranya sehingga ia meniggalkanya.” (H.R.Ahmad dan Muslim)

لاَ يَخْطُبُ الّرجل على خطبة أخيهه حتى ينكح أَو يتركَ

Seorang lelaki tidak boleh melamar wanita yang telah dilamar saudaranya, sampai dia menikahi atau meninggalkanya.”(H.R.Bukhori dan Muslim)

Meminang pinangan orang lain yang diharamkan itu bilamana perempuan itu telah menerima pinangan pertama dan walinya telah dengan terang-terangan mengizinkanya, bila izin itu memang diperlukan. Tetapi kalau pinangan semua ditolak dengan terang-terangan atau sindiran, atau karena laki-laki yang kedua belum tahu ada orang lain sudah meminangnya, atau laki-laki pertama mengizinkan laki-laki kedua untuk meminangnya maka yang demikian itu diperbolehkan.

Jika pinangan laki-laki pertama sudah diterima, namun wanita tersebut menerima pinangan laki-laki kedua kemudian menikah denganya, maka hukumnya berdosa, tetapi pernikahanya tetap sah, sebab yang dilarang adalah meminangnya, sedang meminang itu bukan merupakan salah satu syarat sah nikah. Karena itu pernikahannya tidak boleh dibatalkan walaupun peminangnya itu merupakan tindakan pelanggaran. Imam Abu Daud berkata”pernikahanya dengan peminang kedua harus dibatalkan, baik sesudah maupun sebelum persetubuhan.” [6]

  1. F.     Hukum Khitbah

Memang terdapat dalam Alqur’an dan banyak hadis Nabi yang membicarakan tentang peminangan. Namun tidak ditemukan secara jelas dan terarah adanya perintah atau larangan melakukan peminangan sebagaimana perintah untuk mengadakan perkawinan dengan kalimat yang jelas, baik dalam Alqur’an maupun dalam hadis Nabi. Oleh karena itu, dalam menetapkan hukumnya tidak terdapat pendapat ulama’ yang mewajibkannya.

Mayoritas ulama’ mengatakan bahwa tunangan hukumnya mubah, sebab tunangan ibarat janji dari kedua mempelai untuk menjalin hidup bersama dalam ikatan keluarga yang harmonis. Tunangan bukan hakekat dari perkawinan melainkan langkah awal menuju tali perkawinan. Namun sebagian ulama’ cenderung bahwa tunangan itu hukumnya sunah dengan alasan akad nikah adalah akad luar biasa bukan seperti akad-akad yang lain sehingga sebelumnya disunahkan khitbah sebagai periode penyesuaian kedua mempelai dan masa persiapan untuk menuju mahligai rumah tanggapun akan lebih mantap.

Khitbah,  melamar  tidaklah termasuk syarat sah nikah. Artinya, seseorang boleh langsung menikah  tanpa melamar atau meminang terlebih dahulu. Hanya saja, umumnya meminang merupakan salah satu cara untuk segera menikahi si isteri. Menurut Jumhur ulama, meminang hukumnya jaiz (boleh). Hal ini didasarkan kepada firman Allah dalam (surat al-Baqarah ayat 235)

Sedangkan menurut Syafi’iyyah, meminang itu hukumnya Sunnah karena Rasulullah Saw melakukannya ketika beliau meminang Siti Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar bin Khatab.

Rosulullah Saw bersabda:

اذاخطب أحدكم امرأة فقد رأن يري بعض ما يدعوه الى نكا حها,فليفعل

jika salah seorang kalian melamar seorang wanita, sedangkan ia diberi kemampuan untuk melihat sebagian dari apa-apa yang menarik dirinya untuk menikahinya, hendaklah ia lakukan itu.”(H.R.Ahmad dan Daud)

  1. G.    Konsekuensi Pembatalan Khitbah

Memang sering kali tali pertunangan putus di tengah jalan tanpa membuahkan hasil sampai ke jenjang perkawinan, mungkin sebab terlalu lama menunggu, kondisi yang kurang mendukung atau karena kemelut badai yang mengguncang eratnya tali pertunangan hingga pudar.

Ulama’ berpendapat, boleh saja membatalkan tali pertunangan, namun itu adalah makruh, sebab pertunangan ibarat ikatan janji setia dari kedua mempelai untuk menjalin hidup bersama membina rumah tangga bahagia, sedangkan pembatalan pertunangan ini adalah sebuah pengkhianatan ikatan janji setia.Belum juga imbas dari pembatalan tali pertunangan ini, sudah tidak asing lagi, tunangan yang batal adalah ajang percorengan muka, kebahagiaan yang indah, kenangan manis dan canda ria pun ikut hangus terbakar, kemelut mengguncang. Lalu bagaimana sikap ulama’ menanggapi masalah ini?

Meskipun Islam mengajarkan bahwa memenuhi janji adalah suatu kewajiban, dalam masalah janji akan menikah ini kadang-kadang terjadi hal-hal yang dapat menjadi alasan yang sah menurut Islam untuk memutuskan hubungan petunangan. Misalnya, diketahui adanya cacat fisik atau mental pada salah satu pihak beberapa waktu setelah pertunangan, yang dirasakan akan mengganggu tercapainya tujuan itu tidak dipandang melanggar kewajiban termasuk hak khiyar.

Berbeda halnya pemutusan pertunangan tanpa alasan yang sah menurut ajaran Islam. Misalnya, karena ingin mendapatkan yang lebih baik dari segi keduniaan. Ditinjau dari segi nilai moral Islam, pemutusan pertunangan seperti itu sama sekali tidak dapat dibenarkan.

Masalah yang sering muncul adalah pada masa peminangan, pihak laki-laki memberikan hadiah-hadiah pertunangan atau – mungkin – mahar telah dibayarkan kepada pihak perempuan sebelum akad nikah dilaksanakan, bagaimana nasib hadiah-hadiah atau mahar tersebut apabila akhirnya pertunangan terputus? Apakah dikembalikan pada pihak laki-laki atau tetap menjadi hak sepenuhnya calon istri yang urung tersebut? Mahar yang dibayarkan sebelum akad nikah (dalam masa tunangan) menjadi hak laki-laki, kecuali apabila direlakan, sebab kewajiban suami membayar maskawin adalah setelah terjadi ikatan pernikahan.

Sedangkan mengenai hadiah-hadiah pertunangan, seperti tanda pengokoh (peningset atau pikukuh di jawa) para ulama’ berbeda pendapat :

a.  Sebagian ulama’ (Syafi’iyah) mengatakan bahwa kedua belah pihak boleh menuntut kembali atas pemberiannya, baik pembatalan tunangan tersebut bersumber dari pihak mempelai pria maupun dari mempelai wanita, dan jika barang pemberian tersebut telah rusak atau berubah menjadi barang lain maka wajib mengembalikan qimahnya.

b.   Madzhab Hanafiah mengatakan jika hadiah itu masih utuh dan tidak ada perubahan, maka kedua belah pihak boleh menuntutnya kembali, namun bila terjadi perubahan atau rusak, maka kedua belah pihak tidak boleh saling menuntut kembali atas pemberiannya itu.

c.  Berbeda lagi dengan pendapat Malikiah, menurutnya pihak yang menghendaki pembatalan tali tunangan tidak berhak apa-apa atas pemberiannya, dan harus mengembalikan hadiah-hadiah yang pernah diterima dari pihak lain baik barangnya masih utuh ataupun telah rusak, atau berubah menjadi barang lain. Penyimpangan dari ketentuan tersebut hanya dibanarkan apabila ada syarat lain antara keduabelah pihak, atau apabila ‘urf (adat kebiasaan) tempat piha-pihak bersangkutan mengatakan lain.

  1. H.    Status Benda yang Diberikan Ketika Khitbah Menurut Pendapat Ahli Fiqh

Meminang adalah pendahuluan perkawinan, tetapi bukan akad nikah. Kadang-kadang orang yang meminang memberikan mahar, seluruhnya atau sebahagian, ada juga yang memberikan hadiah-hadiah sebagai penguat ikatan, untuk memperkokoh hubungan baru antara peminang dengan pinangannya. Tetapi harus diingat bahwa semua perkara adalah wewenang Allah. Dalam masalah ini para Ulama berbeda pendapat :

  • Madzhab HANAFI : Berpendapat bahwa barang-barang yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada perempuan pinangannya dapat diminta kembali apabila barangnya masih utuh.
  • Madzhab MALIKI : Berpendapat bahwa apabila pembatalan itu datang dari pihak calon suami maka barang-barang yang pernah ia berikan tidak boleh ia minta kembali, baik pemberian itu masih utuh atau berubah.
  • Madzhab SYAFI’I : Berpendapat bahwa hadiah harus dikembalikan kepada peminang baik pemberian itu masih utuh ataupun sudah berubah baik pembatalan itu datang dari pihak laki-laki maupun perempuan. [7
  1. I.       Hukum Orang Sholeh yang Meminang Wanita yang Sudah dipinang oleh Orang yang Fasiq

Amir ash-Shan’ani dalam kitab Subulus Salam mengatakan,

“Bolehkah seorang yang shaleh meminang wanita yang sudah dipinang oleh orang yang fasiq? Menurut Amir al-Husain dalam kitabnya Asy-Syifa’, hal itu boleh. Ia mengutip pendapat ini dari Ibnul Qosim teman Imam Malik. Dan Ibnul Arabi juga cenderung pada pendapat ini. Tetapi dengan syarat wanita yang dipinag ialah wanita yang terhormat, dan orang fasiq yang telah meminangnya tidak kufu atau tidak setara baginya.”

  1. J.      Hukum Orang yang Tidak Munkin Bisa Melihat Wanita yang Dipinangnya dengan Alasan Ada Kepentingan 

Syaikhuna al-Alamah DR. Ibrahim al-Hafnawi mengatakan:

“Jika karena suatu alasan tertentu, seorang lelaki tidak munkin bisa melihat wanita yang hendak dipinangnya, ia boleh menyuruh seorang wanita yang hendak dipinangnya, ia boleh menyuruh seorang wanita yang ia percaya untuk melihat calon istrinya kemudian wanita itu memberitahukan kepadanya tentang cirri-ciri wanita yang telah dilihatnya itu.”

  1. K.    Hukum Seorang Lelaki Melihat/memperhatikan Berkali-kali Terhadap Wanita yang Dipinang

Al-Khatib asy-Syarbani asy-asy Syafi’I mengatakan :

Boleh hukumnya seorang lelaki melihat/memperhatikan berkali-kali wanita yang dipinangnya jika hal itu memang diperlukan, untuk mengetahui dengan jelas keadaanya, supaya tidak timbul penyesalan dikemudian hari setelah menikah. Pokok persoalanya ialah alasan kebutuhan. Jadi tidak terikat maksimal harus tiga kali misalnya, baik hal itu disertai dengan syahwat atau tidak, seperti yang dikatakan oleh Imam Haramain al-Juwaini Rahimahullah dan Imam ar-Rauyani. Tetapi menurut al-Auza’I jika disertai dengan syahwat, maka hal itu harus dipertimbangkan terlebih dahulu.

An-Nawawi mengatakan:

“Boleh hukumnya ia memperhatikan calon istrinya berkali-kali untuk mengenali keadaannya dengan jelas sehingga ia merasa tertarik untuk menikahinya, supaya tidak timbul rasa penyesalan dikemudian hari setelah menikah.”[8]

  1. L.     Meminang Perempuan yang Sedang Dalam Masa Idah

Meminang mantan istri orang lain yang sedang dalam masa idah, baik karena kematian suaminya, karena talak raj’I maupun talak ba’in, maka hukumnya haram.

Jika perempuan yang sedang idah karena talak raj’I, ia haram dipinang, karena masih ada ikatan dengan mantan suaminya, dan suaminya itu masih berhak merujuknya kembali sewaktu-waktu ia suka.

Jika perempuan yang sedang idah karena talak ba’in maka ia haram dipinang secara terang-terangan karena mantan suaminya masih tetap mempunyai hak terhadap dirinya juga masih mempunyai hak untuk menikahinya dengan akad baru. Jika ada laki-laki lain meminangnya dimasa idahnya berarti ia melanggar hak mantan suaminya.

Dalam hal boleh atau tidaknya meminang perempuan yang sedang idah secara sindiran, kalangan ahli fiqh berbeda pendapat. Pendapat yang benar menyatakan boleh. Perempuan yang sedang idah karena kematian suaminya boleh dipinang secara sindiran selama masa idah, karena hubungan suami istri disini telah terputus sehingga hak suami terhadap istrinya hilang sama sekali. Meskipun demikian, pinangan yang diajukan kepada perempuan tersebut hendaknya tidak mengganggunya, apalagi sampai mencemarkan namanya dimata tetangga atau kerabatnya. Firman Allah dalam surat al-Baqarah[2]:235

ولا جنا ح عليكم فيما عرضتم به من خطبة النساء أوأكننتم فى أنفسكم علم الله أنكم ستذ كرونهن ولكن

لا تواعد وهن سرا إلا أن تقولوا قولا معروفا   ولا تعزموا عقدة النكا ح حتى يبلغ الكتب أجله واعلمواأن الله يعلم ما فى أنفسكم فاحذروه

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan(keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlag kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia kecuali sekedar mengucapkan(kepada mereka) perkataan yang ma’ruf dan jangan lah kamu berazam(bertetap hati) untuk berakad nikah sebelum habis idahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu., maka takutlah kepadaNya.”

Maksud perempuan-perempuan disini adalah perempuan yang sedang dalam masa idah karena kematian suaminya, sebab yang dibicarakan dalam ayat diatas adalah soal kematian. Sedangkan maksud dari kata sindiran adalah seseorang yang mengucapkan kata-kata tersuratnya berlainan dengan yang tersiratnya. Misalnya:saya ingin menikah, atau saya mengharapkan sekali agar Allah memudahkan jalan bagi ku untuk memperoleh istri yang sholehah. Termasuk dalam katagori meminang dengan sindiran adalah memberikan hadiah kepada perempuan yang sedang dalam masa idah, atau laki-laki itu menguji dirinya dengan menyebutnya jasad baiknya sebagai cara meminang dengan sindiran. Hal ini pernah dilakukan oleh Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain.

Rosulullah sendiri pernah masuk kerumah Ummu Salamah ketika masa idah karena kematian Abu Salamah. Beliau bersabda kepadanya:

ولقد علمت انى رسول الله وخيرته وموضعى فى قومى (رواه الدار قطنى)

“Tentu engkau sudah tau bahwa aku ini seorang rosul dan terbaik, serta betapa mulianya kedudukan dikalangan bangsaku.”(H.R.Daruquthni)

Dari urain diatas dapat disimpulkan bahwa hukum meminang dengan terang-terangan kepada mantan istri orang lain ketika masa idahnya adalah haram. Kalau meminang dengan sindiran kepada perempuan yang sedang idah karena talak ba’in atau talak mati itu boleh, maka pinangan kepada perempuan yang sedang idah karena talak raj’I hukumnya adalah haram.

Bagaimana hukumnya meminang secara terang-terangan kepada perempuan yang sedang idah, tetapi pelaksanaan akad nikahnya sesudah idahnya habis, dalam hal ini para ulama’fiqh berbeda pendapat.

Menurut Imam Malik akad nikahnya sah tetapi meminangnya secara terang-terangan itu haram, karena antara meminang dan akad nikah itu berlainan. Tetapi bilamana akad nikahnya terjadi pada masa idah, maka para ulama’sepakat harus dibatalkan, sekalipun antara mereka berdua telah terjadi persetubuhan. Apakah nantinya boleh dinikahkan lagi atau tidak sesudah masa idahnya habis? Imam Malik, al-Laits dan al-Auza’I berkata: tidak boleh menikah lagi setelah masa idahnya habis. Jumhur ulama berpendapat bahwa mereka boleh menikah lagi kapan saja mereka suka, asalkan masa idahnya telah habis.

  1. M.   Hukum berduaan dengan Wanita yang Dipinang

Menyendiri dengan seorang wanita yang sudah dipinang tanpa ditemnai oleh mahramnya hukumnya adalah haram. Ajaran islam tidak memperkenankan melakukan sesuatu terhadap pinanganya kecuali melihat. Hal ini karena menyendiri dengan pinangan akan menimbulkan perbuatan yang dilarang agama. Tradisi pergaulan antara sorang lelaki dan seorang wanita sebelum nikah seperti yang berlaku dizaman sekarang ini, dengan dalih agar kedua belah pihak bisa saling mengenal lebih dekat adalah dalih yang batil. Itu hanyalah taklid buta terhadap pola kehidupan orang-orang berat.

Rosulullah Saw bersabda:

عن بن عبا س رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قا ل: لا يخلون رجل با مرأة إلا مع ذي محرم

Dari Ibnu Abas dari Nabi Saw, beliau bersabda: jangan lah seseorang laki-laki bersama dengan seorang perempuan, melainkan (hendaklah) bersertanya (ada) mahromnya.”(H.R. bukhori). [9]

  1. N.    Sholat Istikharah

Jika masing-masing calon suami istri sudah saling melihat atau memperhatikan, mereka dianjurkan untuk melakukan sholat istikharah, dengan harapan mudah-mudahan ada kecocokan diantara mereka.

Diriwayatkan dari jabir R.A. Ia menuturkan: Rosulullah Saw mengajarkan istikharah kepada kami ketika menghadapi berbagai perkara, sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami surat al-Qur’an. Beliau bersabda:

Apabila salah seorang kalian sedang bingung menghadapi suatu urusan, hendaklah ia sholat sunnah 2 rakaat. Kemudian berdoa, ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu dengan kekuasaanMu, aku mohon bagian kariniaMu yang agung, karena sesungguhnya engkaulah yang kuasa bukan aku, dan engkaulah yang tau bukan aku. Engkau maha mengetahui segala yang gaib. Ya Allah jika menurut pengetahuanMu sesuatu ini (sambil menyebutkan sesuatu yang tengah dihadapi) baik bagi ku untuk urusan agamaku dan kehidupanku, serta akibat urusanku, maka tentukanlah ia untk ku, mudahkanlah ia buat ku, kemudian berkahilah bagiku padanya. Dan jika menurut pengetahuanMu hal itu buruk bagiku untuk urusan agamaku dan kehidupanku serta akibat urusanku, maka hindarkanlah ia daripada ku dan hindarkanlah aku dari padanya. Dan takdirkanlah bagiku kebaikan dimana saja berada, kemudian ridailah aku padanya(sambil menyebut hajatnya).”[10]   

 

  1. O.     Hikmah Disyariatkannya Khitbah

Allah SWT, ketika menyebutkan suatu hal dalam Al-Qur’an, pasti memiliki hikmah yang sangat dalam akan hal tersebut, begitupun dalam hal mengkhitbah, ketika Allah Swt, menerangkan bolehnya mengkhitbah pasti ada hikmah di balik pelaksanaannya itu, paling tidak ada tiga hal, hikmah dilaksanakannya seseorang dalam mengkhitbah diantaranya:

Pertama: Dengan proses khitbah, bisa saling mengenal antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lainnya, mengenal bentuk wajah seseorang yang mengkhitbah dan hal itu tidak bisa kecuali dengan cara mengkhitbah, karena khitbah memudahkan proses jalannya ta’aruf antara seorang yang mengkhitbah ( Laki-laki) dan yang dikhitbah (Perempuan) atau pun keluarga dari keduanya.

Kedua : Ketika seseorang sudah memasuki masa khitbah dapat memperbanyak ibadah dan menggali pengetahuan tentang kerumah tanggaan karena dengan hal ini dapat menambah ketentraman antara yang mengkhitbah dan yang dikhitbah dan hal itu akan berdampak pada baiknya rumah tangga setelah proses pernikahan.

Ketiga: Khitbah juga dapat berakbiat pada ketenangan jiwa seseorang, karena proses khitbah merupakan pengikat antara orang mengkitabah dan dikhitbah dengan ikatan pendahuluan yang memungkinkan antara keduanya merasakan ketenangan dalam prosesnya menuju penikahan.[11]


[1] Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat(Rajawali Pres:Jakarta), 24.

[2] Kamal bin As-Sayyid Salim, Fiqhus Sunnah Lin Nisa’(Tiga Pilar:Jakarta Utara), 534.

[3] Ibnu Hajar al-Asqalani, Bulugul Marom(Pustaka Imam adz Dzabani:Bekasi Timur), 481.

[4] Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat(Rajawali Pres:Jakarta), 28.

[5] Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Terjemah Fiqhus Sunnah Lin Nisa’(Al-I’tishom Cahaya Umat:Jakarta Timur), 638.

[6] Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat(Rajawali Pres:Jakarta), 27.

[7] Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah Jilid 2, (Darul Fath:Bandung), 512.

[8] Hafidz Ali Syuaisyi’, Terjemah  العروس و بهجة النفوستحفة    (Pustaka al-Kautsar:Jakarta Timur), 31.

[9] Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat(Rajawali Pres:Jakarta), 33.

[10] Hafidz Ali Syuaisyi’, Terjemah  العروس و بهجة النفوستحفة    (Pustaka al-Kautsar:Jakarta Timur), 31.

[11] Www.Goegle.Com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s