Iddah

  1. Gugat Cerai bagi Istri

Gugat cerai adalah istilah formal dalam Hukum Islam Indonesia yang mengandung makna permohonan istri kepada pengadilan agama (PA) untuk menggugat cerai dengan suaminya yang kemudian pengadilan mempertimbangkan permohonan tersebut. Dan setelah berproses di PA, kemudian suami mengabulkan permintaan istri dan mengikrarkan kalimat talak di hadapan sidang.[1]

Dikisahkan oleh Ibnu Abbas:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتِبُ عَلَيْهِ فِي خُلُقٍ وَلا دِينٍ وَلَكِنِّي أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِي الإسْلامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْبَلْ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً

 

“Dari Ibnu Abbas r.a. diceritakan: Istri Tsabit bin Qais datang menemui Rasulullah SAW dan ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak mencela suamiku Tsabit bin Qais baik dalam hal akhlak maupun agamanya. Hanya saja aku khawatir akan terjerumus ke dalam kekufuran setelah (memeluk) Islam (karena tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri)”. Rasulullah bersabda:” Apakah kamu bersedia mengembalikan kebun itu kepada suamimu? Wanita itu menjawab: “Saya bersedia”, lalu Rasulullah berkata kepada suaminya: “Ambilah kebun itu dan ceraikan istrimu”. (HR.Bukhari)

Dalam surat al-Baqarah Allah berfirman:

وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَنْ يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ

Artinya:” …Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya…. “(QS Al-Baqarah [2]:229)

Berdasarkan hadits dan ayat di atas, para ulama seperti Ibnu hajar al-’Asqalaniy dan ath-Thibiy mengaitkan pembolehan khulu’ dengan:

Adanya kekhawatiran istri akan ketidakmampuannya menjalankan kewajiban sebagai istri bila terus tinggal bersama suami yang tidak dicintainya bahkan yang dibencinya;

Timbulnya rasa tidak suka terhadap suami disebabkan oleh kekurangan fisiknya atau keburukan akhlaknya;

Adanya kekhawatiran istri bahwa perubahan perasaannya terhadap suami akan menjerumuskannya ke dalam dosa dan fitnah, seperti membuatnya bersikap kasar, membangkang, serta tindakan-tindakan lain yang dapat melukai dan menyakiti hati suaminya.

Imam Malik bahkan membolehkan khulu’ dalam kondisi istri tidak dapat mencintai dan melayani suaminya disebabkan kekurangan fisiknya, minimnya ilmu agamanya, kelalaiannya menjalankan perintah agama, kelanjutan usianya ataupun kondisinya yang lemah dan dikhawatirkan tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagai suami, sehingga menelantarkan hak-hak istri.

Besarnya ‘iwadh (kompensasi) yang diberikan istri kepada suami tergantung kesepakatan mereka dan disunatkan tidak melebihi jumlah mahar yang telah diberikan kepada istri. Berbeda dengan fasakh, dalam kasus khulu’ ini yang berhak menjatuhkan dan mengucapkan lafadh talak adalah suami, baik dengan sepengetahuan Hakim ataupun tidak.

Dalam hukum Islam permohonan talak istri kepada suami dengan membayar iwadh yang disebut dengan Khulu’.

Hikmah dan filsafat gugat cerai (khulu’) bagi istri adalah:

a)      Dapat memberika solusi yang tidak mungkin ditempuh kecuali dengan menggugat cerai yang dilakukan istri kepada suami, karena beberapa alasan yang dapat diterima syar’i lewat keputusan PA.

b)      Keadilan Islam dan mengecilkan tuduhan bahwa hukum-hukum Islam tidak memihak perempuan, karena khulu’ merupakan pemberian hak kepada perempuan sebagai istri untuk meminta cerai dari suaminya, sehinggan cerai tidak mutlak berada ditangan suami.

  1.  ‘Iddah

Kata ‘iddah berasal dari bahasa Arab “al-Adad” berarti bilangan dan dalam istilah syariat ia berarti suatu masa penantian seorang perempuan sebelum kawin lagi setelah kematian suaminya atau bercerai darinya.[2]

Iddah menurut bahasa adalah perhitungan. Sedangkan menurut istilah syara’ ada dua pendapat tentang pengertian iddah. Yakni, menurut Imam Hanafi iddah adalah batasan-batasan waktu yang ditentukan menurut syara’ karena ada bekas waktu yang tersisa, atau dengan pengertian lain yaitu waktu menunggu yang diwajibkan bagi perempuan untuk melanjutkan atau memutuskan pernikahan.

Sedangkan menurut Imam Maliki, Syafi’i, dan Hambali iddah adalah waktu menanti bagi seorang wanita untuk memastikan apakah ada janin yang dikandungnya atau tidak, juga sebagai tanda pengabdian diri kepada Allah, dan berkabung karena ditinggal mati oleh suami. Dapat disimpulkan bahwa pengertian iddah adalah waktu yang ditentukan oleh syara’ sesudah perceraian yang wajib bagi seorang wanita untuk menunggu dengan tidak menikah sebelum habis masa iddahnya.

Para ulama sepakat tentang wajibnya ‘iddah, syari’at menekankan perdamaian rujuk sebagai suatu jalan yang lebih baik dari bercerai bagi pasangan yang menikah, dan memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka kalau telah menjadi renggang. Oleh karena itu al-Qur’an menetapkan suatu saat pisah yang pendek atau terselangnya hubungan perkawinan itu mungkin akan memberi kesempatan kepada pasangan itu untuk memikirkan dan mempertimbangkan kembali kepentingan-kepentingan keluarga dan buah hatinya, dengan mempertanyakan apakah perpisahan ini patut diurungka atau rujuk kembali. Sesuai dengan firman Allah SWT.[3]

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوءٍ وَلاَيَحِلُّ لَهُنَّ أَن يَكْتُمْنَ مَاخَلَقَ اللهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِن كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلاَحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (البقراة:228)

Artinya: “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan lebih daripada istrinya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 228).[4]

Hikmah dan filsafah ‘iddah adalah:

a)      Untuk melihat kondisi rahim istri secara alamiah, apakah ada jani atau tidak.

b)      Menghormati sakral dan agungnya pernikahan, sehinggan perempuan setelah cerai tidak diperbolehkan menikah lagi sebelum masa ‘iddahnya habis.

c)      Memberi kesempatan bagi suami untuk memikirkan lagi keutuhan rumah tangganya, untuk kembali ruju’ bila masih dalam batasan thalak raj’i.

d)     Meyakinkan laki-laki lain yang mau menikahinya bahwa rahimnya benar-benar bersih dari suami pertamanya.[5]

  1. ‘Iddah Istri di Tinggal Mati Suami

               Dalam hal ini terdapat dua kategori istri yang di tinggal mati suaminya harus menjalani ‘iddah sebagai berikut:

a)      Perempuan yang dtinggal mati  tidak dalam keadaan hamil, masa ‘iddahnya dalah selama 4 bulan 10 hari, baik telah melakukan hubungan badan maupun tidak  sesuai dengan firman Allah SWT.

Artinya: “Orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari.” (QS. Al-Baqarah: 234)

Dan juga hadits Ummu Athiyah radhiallahu anha dia berkata:
كُنَّا نُنْهَى أَنْ نُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلَاثٍ إِلَّا عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا وَلَا نَكْتَحِلَ وَلَا نَتَطَيَّبَ وَلَا نَلْبَسَ ثَوْبًا مَصْبُوغًا إِلَّا ثَوْبَ عَصْبٍ وَقَدْ رُخِّصَ لَنَا عِنْدَ الطُّهْرِ إِذَا اغْتَسَلَتْ إِحْدَانَا مِنْ مَحِيضِهَا فِي نُبْذَةٍ مِنْ كُسْتِ أَظْفَارٍ وَكُنَّا نُنْهَى عَنْ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ

Artinya:

“Kami dilarang berkabung atas kematian di atas tiga hari kecuali atas kematian suami, yaitu selama empat bulan sepuluh hari. Selama masa itu dia tidak boleh bercelak, tidak boleh memakai wewangian, tidak boleh memakai pakaian yang berwarna kecuali pakaian ashab. Dan kami diberi keringanan bila hendak mandi seusai haid untuk menggunakan sebatang kayu wangi. Dan kami juga dilarang mengantar jenazah.” (HR. Al-Bukhari no. 302 dan Muslim no. 2739)

b)      Bagi istri yang dalam keadaan hamil, ‘iddahnya adalah sampai melahirkan meskipun waktu antara di tinggal mati dan melahirkan kurang dari empat bulan sepuluh hari, demikian menurut jumhur  fuqaha.

عن المسوربن مخزمة رضي الله عنه أن سبيعة الأ سلمية نفست بعد وفات زوجها بليال فجاءت الى النبي صلى الله عليه وسلم فاستأ ذنته أن تنكح فأ ذن لها فنكحت ( رواه البخارى (

Artinya:

“dari Miswar bin Makhzamah r.a. bahwa Subai’ah al-Aslamiyah pernah melahirkan anak sesudah suaminya meninggal, dalam beberapa malam berselang, ia dating kepada Nabi SAW. Minta izin untuk menikah lalu diizinkan oleh rasulullah SAW. Maka iapun menikah”. [6]

Sedangkan,  menurut sahabat Ali bin Abi Thalib apabila antara kelahiran dan melahirkan kandungan kurang 4 bulan 10 hari ‘iddahnya harus dicukupkan sampai 4 bulan 10 hari  Sesuai dengan ketentuan dalam surat  Ath-Talaq ayat 4.

Bahkan pada masa jahiliyyah Arab, ‘iddah bagi perempuan yang ditinggal mati suaminya adalah satu tahun yang selama satu tahun itu harus menggunakan pakain hitam/gelap, tidak boleh berhias diri dan memakai wangi-wangian serta tidak boleh menunjukkan prilaku yang mencerminkan senang atau bahagia. Dan hal ini sangat memberatkan bagi para perempuan saat itu, maka ketika Islam datang membawa penuh rahmat dengan menghapus beberapa kebiasaan atau kewajiban yang sangan memberatkan dan tidak adil bagi umat manusia, begitu toleran sekali Islam yang meringankan beban tanggungan yang harus dialami oleh kaum hawa selanjutnya. Yang dari masa ‘iddah satu tahun penuh dengan banyak peraturan menjadi empat bulan sepuluh hari.

Hikmah dan filsafat ‘iddah ditinggal mati suami adalah:

a)      Menghormati dan berbela sungkawa atas sepeninggal suaminya

b)      Melihat ada tidaknya janin dalam rahimnya.

  1.  ‘Iddah Bagi Wanita Yang di Talaq Suami

‘Iddah karena penceraian memiliki dua kategori, yang masing-masing memiliki hukum sendiri .

  1. Perempuan yang dicerai dan belum disetubuhi

Dia tidak wajib menjalani masa ‘iddah (al-Ahzab (33):49)

  1. Perempuan yang dicerai dan sudah disetubuhi, dalam hal ini memiliki dua keadaan

Perempuan itu dalam keadaan hamil, masa ‘iddahnya adalah sampai ia melahirkan (at-talaq (64):4)

Perempuan itu tidak dalam keadaan hamil, hal ini tidak luput dari dua kemungkinan. Adakalanya ia masih dalam keadaan menstruasi yang mana masa ‘iddahnya adalah 3 kali suci (al-baqarah 228)

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوءٍ وَلاَيَحِلُّ لَهُنَّ أَن يَكْتُمْنَ مَاخَلَقَ اللهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِن كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلاَحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ )228(

Artinya: ”Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan lebih daripada istrinya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 228).

Perempuan yang tidak menstruasi, adakalanya anak kecil atau wanita tua yang sudah menopause. Masa ‘iddahnya adalah selama 3 bulan (at-talaq 65:4)[7]

  1. Gugat Cerai Formal dan Non Formal

Gugat cerai secara formal adalah gugat cerai yang prosedurnya di lakukan di pengadilan Agama (PA). Gugat cerai yang dilakukan istri atas suami di antaranya berpekaran antara lain:

  1. Suami berbuat zina, pemabuk, pemadat, penjudi dan sebagainya;
  2. Suami meninggalkan anda selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa ada ijin atau alasan yang jelas dan benar, artinya: suami dengan sadar dan sengaja meninggalkan anda;
  3. Suami dihukum penjara selama (lima) 5 tahun atau lebih setelah perkawinan dilangsungkan
  4. Suami bertindak kejam dan suka menganiaya anda;
  5. Suami tak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami karena cacat badan atau penyakit yang dideritanya;
  6. Terjadi perselisihan dan pertengkaran terus menerus tanpa kemungkinan untuk rukun kembali;
  7. Suami melanggar taklik-talak yang dia ucapkan saat ijab-kabul;
  8. Suami beralih agama atau murtad yang mengakibatkan ketidaakharmonisan dalam keluarga.

    (Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam jo Pasal 19 PP No 9 tahun 1975)

Gugat cerai ini berdasarkan pada undang-undang. Dan sedangakan gugat cerai non formal itu adalah sebuah gugatan yang dilontarkan kepada suami tanpa mengikuti prosedur perundang-undangan PA. gugatan cerai secara non formal, di anggap sudah sah, akan tetapi, karena dalam setiap Negara mempunyai peraturan perundan-undangan sendiri yang mengatur kehidupan masyarakatnya, maka sahnya suatu hukum di Indonesia adalah melalu perundang-undangan yang di dalamnya hakim lah yang bisa memutuskan atau mengesahkan sebuah pernikahan atau gugatan.


[1] Drs.H.Dahlan Tamrin, M.Ag. Filsafat Hukum Islam (Malang: UIN PRESS, 2007), 175

[2] Prof. Abdul Rahman I.Doi, Ph.D Perkawinan dalam perkawinan Islam,(Jakarta:Rineka Cipta, 1996). hal: 120

[3] Prof. Abdul Rahman I.Doi, Ph.D, Op. Cit., 121

[4] QS. al-Baqarah(2): 228

[5] Drs.H.Dahlan Tamrin, M.Ag., Op. Cit. hal 177-178

[6] Drs. H.Ibnu Masud dan Drs. H. Zainal Abidin S. Fiqih Madzhab Syafi’I (Bandung: Pustaka Setia,2007). Hal 375

[7] Dr. al-Qadhir Matshur, Buku Pintar Fiqh Wanita (Amazon)hal. 130.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s