Al-Hakim

Pengertian Hakim

Kata hakim secara etimologi berarti “orang yang memutuskan hukum”. Dalam istilah fikih kata hakim juga sebagai orang yang memutuskan hukum di pengadilan yang sama hal ini dengan Qadhi.

Ulama Ushul Fiqh sepakat bahwa yang menjadi sumber atau pembuat hakiki dari hukum syariat adalah Allah SWT. Hal ini didasarkan pada al-Qur’an surat al-An’am ayat 57:

…. إ ن الحكم إلا الله يقص الحق وهو خير الفا صلين ( ا لأ نعام : 6/57)

Artinya:

“…menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah SWT. Dia yang menerangkan sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik. (QS. Al-An’am/ 6:57)

Meskipun para ulama ushul sepakat bahwa yang membuat hukum adalah Allah SWT, tapi mereka berbeda pendapat dalam masalah apakah hukum-hukum yang dibuat Allah SWT hanya dapat diketahui dengan turunnya wahyu dan datangnya Rasulullah saw atau akal secara independen bisa juga mengetahuinya.[1]

Adapun sebelum datangnya wahyu, ulama berselisih peranan akal dalam menentukan baik buruknya sesuatu, sehingga orang yang berbuat baik diberi pahala dan orang yang berbuat buruk dikenakan sanksi. Dalam Islam tidak ada syariat kecuali dari Allah SWT. baik yang berkaitan dengan hukum-hukum taklif (wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah), maupun yang berkaitan dengan hukum wadhi (sebab, syarta, halangan, sah, batal, fasid, azimah dan rukhsah). Menurut kesepakatan para ulama’ hukum diatas itu semuanya bersumber dari Allah SWT. Melalui Nabi Muhammad saw maupun hasil ijtihad para mujtahid melalui berbagai teori Istinbath, seperti qisas, ijma’ dan metode istinbath lainnya untuk menyingkap hukum yang datang dari Allah SWT. dalam hal ini para ulama’ fiqh  menetapkan kaidah :

لاحكم الا الله

Artinya

“tidak ada hukum kecuali  bersumber dari Allah SWT.”

Dari kaidah diatas, ulama ushul fiqh mendefinisikan hukum sebagai titah Allah SWT yang berkaitan dengan perbuatan orang mukallaf, baik berupa tuntutan, pemilihan maupun wadhi’.[2]

Diantara alasan para ulama’ ushul fiqh untuk mendukung pernyataan diatas adalah, sebagai berikut:

  1. QS. Al-Maidah: 44

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكفرون

Artinya:

“barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa-apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang yang kafir” (QS. Al-Maidah:44)

  1. QS. Al-Maidah: 49

واحكم بينهم بما أنزل الله…

Artinya:

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara antara mereka menurut apa yang ditunkan Allah,…” (QS. Al-Maidah:49)

  1. Diakhir ayat 45 surat al-maidah

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأو لئك هم الظلمون

Artinya:

“barang siapa yang tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah, mak mereka itu adalah orang-orang yang dzalim” (QS. Al-Maidah:45)

  1. Keharusan untuk merujuk kepada al-Qur’an dan sunah apabila terjadi perbedaan pendapat

…فان تنا زعتم فى شىءفردوه الى الله والرسول ان كنتم تؤمنون باالله و اليوم الأ خر…

Artinya:

“…apabila kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnah), jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Kiamat” (QS. An-Nisa’: 59)

  1. Keharusan untuk menggunakn hukum Allah SWT. dalam surat an-Nisa’: 65

فلا وربك لايؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجد وا فى انفسهيم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما.

Artinya:

“maka demi Tuhan-Mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisa’: 65)[3]

Dalam hal ini tidak ada perbedaan, yang mengatakan bahwa hakim itu adalah Allah SWT. Yang di perbedakan hanya tentang mengetahui hokum Allah SWT. Tentang perbedaan ini para ulama itu dapat dibagi menjadi seperti dibawah ini:

1)      Mayoritas Ulama’ Ahlusunnah wal Jamaah,

Mengatakan bahwa satu-satunya yang dapat mengenalkan hukum Allah kepada manusia adalah Rasul atau utusan Allah melalui wahyu yang diturunkan Allah kepadanya.sebagai kelanjutan dari pendapat ini adalah bila tidak ada Rasul yang membawa wahyu maka tidak ada hukum Allah, dan manusia pun tidak akan mengetahuinya. Menurut paham ini seorang manusia dapat dianggap patuh atau ingkar kepada Allah , mendapat dosa atau pahala bila telah datang Rasul membawa wahyu Allah dan belum ada hal-hal yang demikian sebelum datang Rasul.[4]

 

Akal manusia tidak bisa mengetahui yang baik dan yang buruk tanpa perantara Rasul dan wahyu-Nya. Alasan menurut pendapat ini adalah dalam surat al-Isra’(17:15)

وما كن معنبين حتى نبعث رسو لآ

Artinya: “ kami tidak akan mengadzab seseorang sebelum kami mengutus Rasul”.

Dalam ayat ini secara jelas Allah maniadakan perhitungan dan azab atau siksa terhadap seseorang sebelum kepadanya sampai (diutus ) seseorang Rasul yang membawa risalah Ilahi.[5]

2)      Mazhab al-Asy Ariah,

Pengikut Abu Hasan al Asy Ari (874 M) mengatakan bahwa, tidak mungkin akal mengetahui hokum Allah dalam perbuatan mukallaf, kecuali dengan perantaraan Rasul dan Kitab-Nya. Karena akal itu berbeda-beda kemampuanya dalam menilai perbuatan. Sebagai dari akal itu menganggap baik beberapa perbuatan, dan sebagiannya menggangap buruk. Malah berbeda mengenai satu perbuatan, kebanyakan akal itu dikalahkan oleh hawa nafsu. Berdasarkan ini maka tidak mungkin dikatakan, apa yang diperhatikan oleh akal itu baik, maka baik disisi Allah. Dan yang melakukannya, Allah akan memberikan pahala bagi yang melakukannya. Dan apa yang menurut akal itu buruk, maka disisi Allah juga buruk. Dan akan diberi sanksi bagi yang melakukannya.

Menurut mazhab ini tidak ada orang diberati dalam hukum Allah melakukan sesuatu, atau meninggalkan sesuatu, kecuali apabila telah sampai seruan Rasul kepadanya. Dan apa-apa yang disyariatkan Allah SWT tidak diberi seseorang melakukan sesuatu, dan tidak dikenakan sanksi atau hukuman atas meninggalkannya. Orang yang hidup benar-benar terasing, sebab itu tidak sampai kepadanya seruan  Rasulullah dan tidak sampai juga syariatnya., maka orang ini tidak diberati hukum dari Allah SWT. [6]

Seseorang tidak mendapat beban hukum (taklif) dari Allah, kecuali telah mendapat dakwah dari Rasulullah saw atau mendapat ketetapan dari syari’at, dan ia tidak akan mendapat pahala karena melakukan (kebaikan) dan tidak disiksa karena meninggalkan (kebaikan). Dengan kata lain, seseorang seperti ini tidak wajib iman dan tidak haram kufur, pendapat ini ditegaskan dengan firmah Allah SWT:

وما كنا معذ بين حتى نبعت رسولا

Artinya: “ dan kami tidak akan mengazdab sebelum kami mengurus seorang Rasul” (QS. Al-Israa’ 15)[7]

3)      Madzhab Mu’tazilah

Pengikuti Washil bin Utha’(700-749 M). Madzhab ini beranggapan bahwa ada kemungkinan orang mengetahui hukum Allah dalam perbuatan mukallaf itu dengan sendirinya, tanpa perantara Rasul dan Kitab-Nya. Karena tiap-tiap perbuatan yang dikerjakan oleh mukallaf itu padanya terdapat sifat-sifat yang mempunyai kemampuan berfikir yang dapat membedakan mudharah dan manfaat. Maka hukumlah yang membedakan baik dan buruk.

Hukum Allah SWT terhadap perbuatan itu dapat diperhitungkan menurut akal yang mana bermanfaat dan mana yang mudharat, Allah meminta para mukallaf melakukan apa-apa yang bermanfaat kepada mereka menurut perhitungan akal mereka itu. Asas dari madzab ini ialah yang baik dikerjakan menurut pertimbangan akal, maka adalah baik, yang didalamnya ada yang bermanfaat, begitu pula sebaliknya.

Menurut mazhab ini, orang-orang yang tidak sampai seruan nabi kepadanya dan tidak pula disyariatkan, namun mereka ini tetap diberati oleh Allah melakukan menurut apa yang ditunjukkan oleh akalnya bahwa perbuatan itu adalah baik dan diberi pahala oleh Allah SWT. dari kalangan ini mengatakan bahwa, akal itu tidak mampu mengingkari setiap perbuatan, yang didalamnnya terdapat hal-hal khusus yang mempunyai pengaruh tentang baik dan buruk

Tidak sanggup akal mengkingakari bahwa Allah mensyariatkan hukumnya dalam segi perbuatan mukallaf itu tidak lain selain dari membina terhadap apa di dalamnya terdapat hal-hal yang bermanfaat atau yang mudharat.

Dalam pernyataan diatas, yang dikutip dalam buku ajar “memahami Sumber Hukum Islam yang Mukhtalaf” bahwa perbuatan mukallaf itu dapat dihukumi baik dan buruk salah satu tiga penetapan berikut ini:

1)      Ditetapkan oleh akal secara dharuri, yang dengan tidak perlu mengadakan penyelidikan secara mendalam, akal umum akan menerimanya.

2)      Ditetapkan oleh akal secara nadzari, yakni untuk menentukan salah atau benar masih perlu mamikirkan dan perenungan mendalam.

3)      Ditetapkan secara sama’i, yaitu berdasarkan pada apa yang telah ditetapkan oleh nash. Misal, shalat, puasa dll. Dan kejelekan meminum khamar dll.

Dengan demikian, menurut golongan Mu’tazilah bahwa orang mukallaf itu wajib melakukan perbuatan baik dan meninggalkna perbuatan buruk sesuai dengan penilaina akalnya. Allah akan memberi pahala atas perbuatan yang dianggap baik dan mamberi siksa atas melakukan perbuatan buruk menurut penilain akal. Dalam hal ini didasarkan pada firman Allah:

قل لا يستوى الخبيث والطيب ولو أعجبك كثرة الخبتث فا تقوا الله يأ ولى الأ لبب لعلكم تفلحون

Artinya:

“ Katakanlah: tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu . maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang ynag berakal, agar kamu dapat keberuntungan.” (QS. Al-maidah: 100)[8]

Kalangan Mu’tazilah, mengakui ada sejumah perbuatan yang tidak dapat diketahui baik dan buruknya oleh akal manusia, seperti ibadah dan tata caranya. Untuk masalah ini, peranan wahyu mutlak penting untuk menyingkap dan mengetahui baik dan buruknya ibadah dan tat caranya. Dalam ibadah, manusia harus mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh wahyu dan petunjuk dari Rasul-Nya.[9]

Akal memiliki kemampuan untuk menganalisis bagian-bagian dan memberi ketentuan hukum baik atau buruk secara general pada sebagian perbuatan. Karena manfaat suiatu perbuatan atau bahaya yang muncul darinya dirasakan oleh mayoritas masyarakat yang menerima pengaruh perbuatan itu, sehingga dengan pengaruh ini bisa memastikan karakter pada sebagian perbuatan , sebagai perbuatan adil dll.[10]

4)      Mazhab Maturidiah.

Yaitu pengikut Abu Mansur Maturidi, inilah mazhab pertengahan dan sederhana. Yaitu menguatkan ra’i (kemampuan berfikir), menurutnya perbuatan mukallaf itu di dalamnya terdapat hal-hal yang khusus, mampu untuk menentukan yang baik dan buruk. Hukum itu ikut menentukan bahwa mana yang baik dan mana yang buruk.

Ada orang menyetujui pendapat Mu’tazilah, menganggap baik dan buruk perbuatan itu tentang apa yang difikirkan oleh akal itu dibina atas yang bermanfaat dan yang memberi mudharat. Mereka memperdayakan mengatakan bahwa hukum Allah itu tidak dapat tidak adalah sesuai dengan hukum akal. Dan apa yang menurut akal itu baik inilah yang diminta Allah.

Orang-orang yang cocok dengan aliran Al Asy Ari yang menganggap bahwa tidak akan mengetahui hukum Allah kecuali dengan perantara rasul-rasul dan kitab-kitab-Nya. Perbedaan ini terjadi karena mereka beranggapan bahwa baik dan buruk itu bagi perbuatan syari’at bukan akal. Orang mengatakan perbuatan itu tidak dikatakan baik, kecuali diminta oleh Allah melakukannya begitu pula sebaliknya. Yang buruk adalah yang menimbulkan kemudharatan, disinilah letak perbedaanya.

Perbedaan ini dinisbatkan kepada orang yang belum sampai syariat Rasul. Adapun orang-orang yang sudah sampai kepada syariat Rasul, maka ukuran yang dipakai untuk menentukan yang baik dan yang buruk ialah dengan menisbatkan kepada apa yang terdapat dalam Syari’at. Bukan apa yang terdapat dalam fikiran. Apa yang diperintah oleh Syari’at maka itulah yang baik, hal itulah yang disuruh untuk dikerjakannya dan diberi pahala. Apa-apa yang dilarang oleh Syari’at maka inilah yang buruk, inilah yang disuruh untuk ditinggalkan dan akan dijatuhi sanksi karena melakukannya.

Perlu ditegaskan lagi, perbedaan pendapat diatas berkenaan dengan perbuatan manusia sebelum turunya wahyu. Perbedaan pendapat tersebut menjadi tidak relevan setelah turunnya wahyu, karena ketiga kelompok tesebut sependapat, setelah datangnya Rasulullah saw membawa wahyu, maka yang menjadi standar baik dan buruk adalah wahyu.[11]


[1] Satria effendi, Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana, 2009). 68

[2] Rachmat Syafe’i, Op. Cit.,

[3]Rachmat Syafe’i, Op. Cit.,., 348.

[4] Amir Syarifuddin, Op. Cit,. 348

[5] Nasrun Haroen, Ushul Fiqh (Jakarta : Logos Wacana Ilmu: 1997)., 289

[6] Syekh Abdul Manaf Khalaf, terjemah Ilmu Ushul Fiqh (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), 115

 [7] Buku ajar, Memahami Sumber Hukum Islam yang Mukhtalaf. Hal 14

[8] Ibid., 15

[9] Firdaus, ushul fiqh (Jakarta: Zikrul Hakim, 2004)

[10] Syaikh Muhammad al-Khudhari Biek, Ushul Fikih  (Jakarta: Pustaka Amani, 2007),.40

[11]Abd Rahman Dahlan, Ushul Fiqh (Jakarta: Amzah, 2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s