Mahar

  1. A.    Pengertian Mahar

 

 

Salah satu keitimewaan islam ialah memperhatikan dan menghargai wanita, yaitu memberinya hak untuk memegang urusan dan memiliki sesuatu. Di zaman jahiliyah, hak perempuan itu dihilangkan dan di sia-siakan sehingga walinya dengan semena-mena dapat menggunakan hartanya dan tidak memberikan kesempatan untuk mengurus hartanya serta menggunakanya. Islam datang menghilangkan belenggu ini dengan istri diberi hak mahar dan suami diwajibkan memberikan mahar kepadanya bukan kepada ayahnya.

 

Mahar atau mas kawin adalah harta atau pekerjaan yang diberikan oleh seorang laki-laki kepada seorang perempuan sebagai pengganti dalam sebuah pernikahan menurut kerelaan dan kesepakatan kedua belah pihak, atau berdasarkan ketetapan dari si hakim. Dalam bahasa Arab, mas kawin mempunyai sepuluh sebutan istilah mahar, shadaq, faridhah dan ajr, nihlah, khiba’, uqr’ a’laiq, thaul, dan nikah[1]. Mas kawin disebut dengan mahar yang secara bahasa berarti pandai, mahir, karena dengan menikah dan membayar mas kawin, pada hakikatnya laki-laki tersebut sudah pandai dan mahir, baik dalam urusan rumah tangga kelak ataupun dalam membagi waktu, uang dan perhatian. Mas kawin juga bisa disebut harta yang diberikan kepada wanita ketika akad dengan bertujuan istimta’ (ingin mendapatkan kesenangan hubugan intim[2].

 

Mas kawin disebut dengan faridhah yang secara bahasa berarti kewajiban, karena mas kawin merupakan kewajiban seorang laki-laki yang hendak menikahi seorang wanita. Mas kawin juga disebut dengan ajaran yang secara bahasa berarti upah, lantaran dengan mas kawin sebagai upah atau ongkos untuk dapat menggauli isterinya secara halal. Para ulama telah sepakat bahwa mahar hukumnya wajib bagi seorang laki-laki yang hendak menikah, baik mahar tersebut disebutkan atau tidak disebutkan sehingga si suami harus membayar mahar mitsil. Oleh karena itu, pernikahan yang tidak memakai mahar, maka pernikahannya tidak sah karena mahar termasuk salah satu syarat sahnya sebuah pernikahan.

 

Dengan demikian mahar dalam islam tidak di tetapkan jumlah besar atau kecilnya karena adanya perbedaan kaya dan miskin, lapang dan sempitnya rizki. Selain itu, setiap masyarakat mempunyai adat dan tradisi yang berbeda-beda. Karena itu, islam menyerahkan masalah jumlah mahar itu berdasarkan kemampuan masing-masing individu atau keadaan dan tradisi keluarganya. Segala nash yang memberikan keterangan tantang mahar tidaklah dimaksudkan kecuali untuk menunjukkan pentingnya nilai mahar tersebut, tanpa melihat besar kecilnya jumlah. Jadi boleh memberi mahar, mislanya degan cincin yang terbuat dari besi atau segantang kurma atau mengajarkan beberapa ayat Al-Qur’an dan sebagainya tetapi dengan syarat sudah di setujui oleh kedua belah pihak yang melakukan akad.

 

Amir bin robi’ah berkata bahwa seorang perempuan bani Fazarah dinikahkan dengan mahar sepasang sandal, Rasulullah besabda :

 

عن عامر بن ربيعة أن أمرأة من بنى فزارة تزوحت على نعلين فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أرضيت من نفسك ومالك بنعلين قالت: نعم. فقال فأجازها. ( رواه أحمد وبن ماجه والترميذي وصححه)

“ Apakah engkau meridhokan dirimu dan apa yang dimilikimu dengan sepasang sandal” berempuan itu menjawab “ Ya”. Nabipun membolehkannya. (HR. ahmad, Ibnu Maajah, Tirmidzi, dan ia shahikan)

 

Dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa mahar itu boleh dalam jumlah sedikit dan boleh juga berupa sesuatu yang bermanfaat. Di antara yang bermanfaat itu ialah mengajarkan Al-Qur’an.

 

Golongan hanafi menyebutkan jumlah mahar sedikitnya sepuluh dirham. Golongan Maliki menyebutkan tiga dirham. Jumlah seperti ini tidaklah didasarkan pada keterangan nash agama yang kuat atau alasan yang sah.

 

  1. B.     Dasar dasar mahar

Allah berfirman dalam QS al-Nisa: 4

وءاتوا النساء صدقاتهن نحله فاءن طبن لكم عن شيء منه نفسا فكلوه هنيئا مريئا

yang artinya berbunyi,”dan berikanlah mahar pada wanita –yang kamu nikahi- sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamusebagaian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedaplagi baik akibatnya.

Allah juga berfirman dalam QS al- nisa’: 24

 

قال سبحانه: فما استمتعتم به منهن، فآتوهن أجورهن فريضة

Allah juga berfirman dalam QS al- nisa’: 25

 

وقال تعالى: {وآتوهن أجورهن}

 

 

  1. C.    Macam-macam Mahar

 

Mahar adalah satu diantara hak istri yang berdasarkan atas kitabullah, sunnah rasul, dan ijma’ kaum muslimin. Mahar ada dua macam yakni :

 

  1. Mahar Musamma.

 

Mahar musammah adalah mahar yang disepakati oleh pengantin laki-laki dan perempuan yang disebutkan dalam redaksi akad. Para ulama’ madzab sepakat bahwa tidak ada jumlah maksimal dalam mahar tersebut karena adanya firman Allah yang berbunyi :

 

وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّقِنْطَارًا فَلا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

 

Artinya : Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata? [4.21] Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.

 

Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang batas minimalnya, Imam Syafi’I berpendapat bahwa tidak ada batas minimal dalam mahar dan juga memperbolehkan nikah tanpa mahar.[3] Segala sesuatu yang dapat dijadikan harga dalam jual beli boleh dijadikan mahar sekalipun hanya satu qursy.

 

  1. Mahar Mitsl

Mahar mitsl adalah mahar yang seharusnya diberikan kepada perempuan atau diterima oleh perempuan sama dengan mahar yang biasa diterima oleh perempuan-perempuan selainnya yang sepadan dengannya, baik dari segi kecantikan, harta, akal, agama, kegadisan, dan maupun keadaan negerinya ketika akad nikah di langsungkan. Jika faktor-faktor tersebut berbeda, maka berbeda juga maharnya. Seperti janda yang mempunyai anak, janda yang tanpa anak, dan gadis perawan. Hal ini karena jumlah mahar perempuan pada kebiasaannya berbeda-beda karena perbedaan faktor-faktor tersebut.[4]

Ukuran sama yang digunakan yaitu dengan melihat anggota keluarganya sendiri, seperti saudara perempuan sekandung, bibinya, dan putri-putri bibinya.Para ulama’ madzhab sepakat bahwa mahar bukanlah salah satu rukun akad, sebagaimana halnya jual beli, tetapi merupakan salah satu konsekuensi adanya akad. Karna ittu, akad nikah boleh dilakukan tanpa menyebut mahar, dan bila terjadi percampuran, ditentukanlah mahar mistli, kalau kemudian si istri di talak sebelum dicampuri, maka dia tidak berhak atas mahar, tetapi harus di beri mut’ah, yaitu pemberian sukarela dari suami, bisa berbentuk pakaian, cincin, dan sebagainya. Kalau kedua belah pihak setuju, maka barang itulah yang menjadi mut’ahnya. Tetapi kalau tidak diperoleh kesepakatan, maka hakimlah yang menentukanya. Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, Nikah yang paling besar barokahnya itu adalah yang murah maharnya, namaun apabila nikahnya tanpa mahar, nikahnya tetap sah, tapi tidak wajib memenuhi kebetuhan suami[5].

  1. D.    Syarat-syarat Mahar

 

1.  Hendaknya berupa barang yang halal

2. Mahar berupa uang, perhiasan, perabot rumah tangga, binatang, jasa, hafalan Al-Qur’an, harta perdagangan, atau benda-benda lainya yang mempunyai harga.

 

  1. E.     Hikmah Memberikan Mahar

 

  1. Sebagai bukti ketulusan untuk menikah
  2. Sebagai upaya bentuk tanggung jawab antara ke dua belah pihak
  3. Sebagai pengikat antara dua belah pihak

 

  1. F.     Kewajiban Suami Dan Istri

 

Jika akad nikah telah sah, hal ini akan menimbulkan akibat hukum. Dengan demikian, hal ini pun akan menimbulkan hak serta kewajiban selaku suami istri. Hak dan kewajiban ini ada tiga macam:

 

Hak istri atas suami,

Hak suami atas istri, dan

Hak bersama.

 

Jika masing-masing suami istri menjalankan kewajibannya dan memperhatikan tanggung jawabnya maka akan terwujudlah ketentraman dan ketenangan hati sehingga kebahagiaan suami istri tersebut menjadi kenyataan.

 

Firman Allah :

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. ( An-nissa’ 4: 19)

 

Dan apabila dalam masa tertentu ada permasalahan perbedaan tentang mahar nominal mahar yang telah di berikan terdahulu seperti contoh: si suami berkata “saya menikahi kamu dengan mahar seribu dirham”, namun si istri berkata “ kamu menikahi saya dengan mahar dua dirham. Apabila terjadi persoalan seperti ini, maka apabila keterangannya itu jelas, maka yang jelaslah yang di ambil, dan apabila, keterangan dari pihak suami dan istri itu sama-sama jelasnya, maka yang dimenagkan adalah pendapatnya si istri.[6]

 

 

Menurut Afdawaiza, mengutip W Robertson Smith dalam bukunya Kinship and Marriage in Early Arabia, pemberian mahar pada masa dulunya sangat berkaitan dengan kondisi perempuan yang tidak memiliki hak dan kebebasan, sehingga pemberian mahar pun dengan sendirinya diperuntukan bagi wali si perempuan, sebagai konpensasi karena ia sudah membesarkannya dan resiko akan kehilangan peran yang dimainkan si anak nantinya di rumah bapaknya. Dan hal inilah yang menyebabkan pada masa arab pra-islam mahar ditafsirkan sebagai harga beli seorang perempuan dari walinya.

Sehingga pembahasan al-Qur’an mengenai mahar ini bisa disimpulkan menjadi tiga point. Pertama, dalam al-Qur’an mahar diartikan dengan Shaduqat yang merupakan suatu pertanda kebenaran dan kesungguhan cinta kasih seorang pria. Kedua, jika Shaduqat itu ditarik secara khusus menjadi mahar, maka mahar itu menjadi hak milik perempuan, bukan milik ayah atau ibunya atau siapapun yang secara tradisional dianggap berhak menjadi wali bagi seorang perempuan. Ketiga, kalaupun mahar diberikan kepada perempuan ia harus dipandang sebagai nihlah yaitu pemberian yang penuh sukarela sebagai hadiah yang tidak mengharapkan imbalan apapun

Jika yang meminta cerai adalah pihak suami (thalak) maka isteri tidak bekewajiban untuk mengembalikan mahar tersebut. Sedangkan jika pihak istri yang meminta cerai (khulu’) maka ia wajib mengembalikan pemberian suami tersebut kepadanya. Hal itu berdasarkan hadits di bawah ini Dari Ibnu ‘Abbas RA: “Sesungguhnya istri Tsabit bin Qais datang kepada Rasulullah SAW, ia berkata: “wahai Rasulullah, aku tidak mencelanya (Tsabit) dalam hal akhlaknya maupun agamanya, akan tetapi aku benci kekufuran (karena tidak mampu menunaikan kewajibannya) dalam Islam” Maka Rasulullah SAW berkata padanya: “Apakah kamu mengembalikan pada suamimu kebunnya? Wanita itu menjawab: ia. Maka Rasulullah SAW berkata kepada Tsabit: “terimalah kebun tersebut dan ceraikanlah ia 1 kali talak” (HR Bukhori, Nasa’y dan Ibnu Majah. Nailul Authar 6/246)

 

  1. G.    Hal-Hal Penting Dalam Mahar

 

  1. Mencampuri Istri Dan Mahar

Dalam prospek ini, apabila mahar belum di serahkan, maka bagi suami dilarang untuk mencegahnya keluar rumah, dan diperbolehkan baginya (istri) untuk pergi kemanapun dia mau. Namun apabila mahar sudah diberikan, maka bagi istri wajib untuk melayani sang suami, dan tidak diperkenankan pergi kemanapun baik berkunjung ke rumah orang tua tanpa seizin suami kecuali pergi menunaikan ibadah  haji.[7]

Percampuran yang disebabkan perkawinan syari’(shah), untuk jenis hubungan yang ini, wanita berhak atas mahar musamma manakala akad mahar disebutkan secara jelas, tetapi bila tidak disebutkan dalam akad mahar atau disebutkan berupa mahar yang tidak sah semisal khammr dan babi, karna babi tidak manfaatnya bagi seorang muslim. Maka wanita tersebut berhak atas mahar mistli. Kalau salah satu suami istri itu meninggal dunia sebelum terjadi percampuran, maka siwanita tersebut menurut madzhab empat berhak atas seluruh mahar musamma.

  1. Tindakan Pidana Yang Dilakukan Istri Atas Suami

Imam syafi’I, maliki, dan hambali berpendapat bahwa apabila seorang istri membunuh suaminya sebelum dia dicampuri, maka gugurlah semua maharnya.Sedangkan imam  abu hanifah dan imamiyah, berpendapat bahwa, hak wanita tersebut atas mahar tidak gugur, sekalipun dalam hal waris haknya menjadi gugur.

  1. Berdua Di Tempat Sepi ( Khalwat)

Imam syafi’I dan mayoritas ulama’ madzhab imamiyah berpendapat bahwa, tindakan suami istri di tempat sepi tidak berpengaruh apa-apa terhadap mahar maupun kewajiban-kewajiban lainya (berhubungan seksual). Imam abu hanifah dan imam ahmad ibn hambal berpendapat bahwa khalwat dalam arti sebenarnya, merupakan hal yang bisa menguatkan membayar mahar. Imam abu hanifah juga menambahkan bahwa, wajib membayar mahar ketika berkhulwat kecuali apabila wanita tersebut dalam keadaan ihram, sakit, puasa pada bulan ramadlan, dan ketika dalam keadaaan haid, nifas.[8]

 

 

  1. Separuh Mahar

Para ulama’ madzhab sepakat bahwa, apabila akad dilaksanakan dengan menyebutkan mahar, kemudian si suami menjatuhkan talak sebelum dikumpuli, maka wajib memberikan separuh mahar musamma.[9]. Sama halnya seperti pada zaman dahulu, ketika seseorang menjual wanita untuk di jadikan istri, dan ketika akad jual belinya sudah terjadi, kemudian dengan kurun waktu tertentu, pembeli tadi menjual wanita yang dibelinya. Maka bagi pembeli wajib memberikan separuh mahar.[10] Seperti firman Allah dalam surat al-baqarah yang berbunyi:

وٳن طلقتموهن مِنْ قبلِ أنْ تمسوهُن وقد فرضتُم لهن فريْضةً فنِصْفُ مَا فرضْتُم

Yang artinya: “jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu”QS. 2:237

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mughniya, Muhammad Jawad, fiqih Lima Madzab. Jakarta : Lentera 2006.

Uwaidah, syaikh Kamil Muh, Fikih Wanita. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar 1998.

Sayyid sabiq, Fiqh Assunah, Bairut Dar Al-Tsaqofah : jilid II

Li’alaai al ddin al samarqandi, tuhfatul fuqoha’. lebanon: daru al alamiyah 539 H juz 2

Imam abi zakariya muhyiddin yahya, lilhafidz jalaluddi al suyuthi, roudlotu al thalibin.  lebanon: daru al alamiyah juz 5

Imam al qhodi abi al walid, Bidayatul Mujtahid wanihayatul muqtasid  lebanon: daru al alamiyah 595 H juz 4

Fiqh empat madzhab: Maktabah Al syamilah

 

 


[1] Al Fiqhu Al Islami : Maktabah Al Syamilah

[2] Fikh empat madzhab : Maktabah Al-Syamilah

[3] Li’alaai al ddin al samarqandi, tuhfatul fuqoha’ juz 2 (lebanon: daru al alamiyah 539), hlm. 135-136.

[4] Mughniya, Muhammad Jawad, fiqih Lima Madzab. Jakarta : Lentera 2006.

 

[5] Sayyid sabiq, Fiqh Assunah, Bairut Dar Al-Tsaqofah : jilid II

 

[6] Ibid, 143

[7] Ibid, 142

[8] Imam al qhodi abi al walid, Bidayatul Mujtahid wanihayatul muqtasid  juz 4 (lebanon: daru al alamiyah 595 H), hlm.242

[9] Li’alaai al ddin al samarqandi, tuhfatul fuqoha’ juz 2 (lebanon: daru al alamiyah 539 H), hlm.140

[10] Imam abi zakariya muhyiddin yahya, lilhafidz jalaluddi al suyuthi, roudlotu al thalibin  juz 5 (lebanon: daru al alamiyah), hlm.550.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s