Analisis Surat An Nisa’ Ayat 11

2.1 Fokus Ayat

يوصيكم الله فى اولادكم لّذّكر مثل حظ الاْنثيين فان كن نساء فوق الثنتين فلهنّ ثلثا ما ترك وانكانت واحدة فلها النصف

Dari potongan ayat di atas yang menjadi kata kunci dalm kajian ini adalah

فان كن نساء فوق الثنتين وانكانت واحدة  لّذّكر مثل حظ الاْنثيين  kata  لّذّكر  menjadi kata kunci, karena kedudukanya adalah yang tertinggi dan menjadikan jumlah pembagian harta warist berbeda dan menunjukkan adanya laki laki dan perempuan dalam waktu dan tempat yang sama,  kata الاْنثيين menjadi kata kunci, sebab menjadi kunci utama yang menjadikan seorang perempuan hanya mendapatkan bagian di bawah laki-laki . kata نساء menjadi kunci, sebab menunjukkan keadaan tidak bersama dengan seorang laki-laki. Kata الثنتين menjadi kata kunci, sebab menunjukkan ada dua orang wanita tanpa adanya seorang laki-laki. Kata واحدة menajdi kata kunci, sebab menunjukkan hanya ada satu orang perempuan dan tidak bersama dengan laki-laki.

2.2 Pemahaman Kata Kunci

2.2.1 ذّكر

Lafadz tersebut di sebutkan dua belas kali di dalam al-Qur’an, yaitu di surat ali imran ayat 36, surat ali imran ayat 195, surat an nisa’ ayat 11, 124, 176, surat an nahl ayat 97, surat ghafir ayat 40, surat al hujrat ayat 13, surat an najm ayat 21, 45, surat al qiyamah ayat 39, surat al lail ayat 3, lafadz  ذكراناdisebutkan satu kali dalam surat as syura ayat 50, lafdz  ذكراهم disebutkan satu kali dalam surat muhammad ayat 18, lafadz الذكرين disebutkan dua kali yakni dalam surat al An’am ayat 143, dan 144, lafadz  ذكرناdisebutkan dua kali dalam surat al kahfi ayat 28, dan surat an Najm ayat 29. Lafadz  الذكور disebutkan satu kali dalam surat as syura ayat 49, lafadz ذكّروا  disebutkan tujuh kali yakni dalam surat al Maidah ayat 13, 14. Surat al An’am ayat 44. Surat al A’raf ayat 165. Surat al Furqan ayat 73. Surat As Sajdah ayat 15. Dan surat As Shaffat ayat 13.[1]

2.2.2 الاْنثيين

lafadz tersebut di dalam al-Qur’an disebutkan enam kali saja, yakni pada surat an- nisa’ ayat 11, 176. Surat al an’am ayat 143, 143, 144, 144. Sedangkan lafadz انثى disebutkan sebanyak 18 kali yakni dalam surat ab baqarah ayat 178, 178. Surat ali Imran ayat 36. 36, 198. Surat an Nisa’ ayat 124. Surat ar Ra’du ayat 8. Surat an Nahl ayat 58, 97. Surat al Fatir ayat 11. Surat Ghafir ayat 40. Surat Fussilat ayat 47. Surat al Hujrat ayat 13. Surat an Najm ayat 21, 27, 45. Surat al qiyamah ayat 39. Dan surat allail ayat 3.[2]

2.2.3 نساء

Lafadz tersebut di dalam al Qur’an disebutkan sebanyak 38 kali, dengan rincian di surat al baqarah ayat 222, 231, 232, 235, 236. Di surat ali Imran ayat 14, 42. Di surat an nisa’ ayat 1, 3, 4, 7, 11, 19, 22, 24, 32, 34, 43, 75, 98, 127, 127, 129, 176. Surat al maidah ayat 6. Surat al a’raf ayat 81. Surat an nur ayat 31, 60. Surat an naml ayat 55. Surat al ahzab ayat 30, 32, 32, 52, 59 Surat al fath ayat 25. Surat al hujrat ayat 11,11. Surat at talaq ayat 1. Lafadz  نساءكمdisebutkan empat kali  yakni dalam surat al Baqarah ayat 49. Ali Imran ayat 61. Al’araf ayat 141. Lafadz نساءهم  disebutkan tiga kali yakni dalam surat al a’raf ayat 127. Al Qosos ayat 4. Ghafir ayat 25. Lafadz  نساؤكم disebutkan satu kali dalam surat al Baqarah ayat 223. Lafadz  نسائهنّdisebutkan dua kali yakni dalam surat an Nur ayat 31 dan al Ahzab ayat 55.[3]

2.2.4 الثنتين

Lafadz tersebut, disebutkan di dalam al Qur’an sebanyak 4 kali yakni di dalam surat an nisa’ ayat 11, 176. Surat ghafir ayat 11.11. Lafadz  اثنانdisebutkan sebanyak satu kali yakni dalam surat al Maidah ayat 106. Lafadz  اثنتاdisebutkan sebanyak dua kali yakni dalam surat al Baqarah ayat 60. Al ‘araf ayat 160. Lafadz  اثنَيْdisebutkan sebanyak satu kali dalam surat al Maidah ayat 12. Lafadz  اثنين disebutkan sebanyak sepuluh  kali dalam surat al An’am ayat 143, 143, 144, 144. At Taubah ayat 40. Hud ayat 40. Ar Ra’d ayat 3. An Nahl ayat 51. Al mu’minun ayat 27. Dan surat Yasin ayat 14.[4]

2.2.5واحدة

Lafadz tersebut, disebutkan di dalam al Qur’an sebanyak 31 kali. Yakni di surat al baqarah ayat 213. Surat an Nisa’ ayat 1, 3, 11. Surat al maidah ayat 48. Surat al an’am ayat 98. Surat al a’raf ayat 189. Surat yunus ayat 19. Surat hud ayat 118. Surat yusuf ayat 31. Surat an Nahl ayat 93. Surat al anbiya’ ayat 92. Surat al Mukminun ayat 52. Surat al Furqan ayat 32. Surat luqman ayat 28. Surat saba’ ayat 46. Surat yasin ayat 29, 49, 53. Surat as shoffat ayat 19. Surat shad ayat 15, 23. Surat az zumr ayat 6. Surat as syuro ayat 8. Surat az zukhraf ayat 33. Surat al qamar ayat 31, 50. Surat al haqqah ayat 13, 14. Dan an Nazi’at ayat 13. Lafadz   واحداًdisebutkan sebanyak lima kali yakni dalam surat al Baqarah ayat 133. Surat at Taubah ayat 31. Surat al Furqan ayat 14. Surat Shaad ayat 5. Dan surat al Qomar ayat 24. Lafadz  واحدdisebutkan sebanyak 25 yakni dalam surat al Baqarah ayat 61, 163. Surat an NIsa’ ayat 11, 12, dan 171. Surat Yusuf ayat 39, 67. Surat ar Ra’d ayat 4, dan 16. Surat Ibrahim ayat 48, dan 52. Surat an Nahl ayat 22, dan 51.[5]

2.3 Analisis Makiyah Madaniyah

Ayat makiyah adalah ayat yang turun di makkah dan sebelum hijrahnya rasul, ayat makiyah kebanyakan mempunyai konteks penyampaian yang keras, karna kondisi geografis dan waktu yang masih awal islam yakni masa jahiliyah, dan isi kandungan ayatnya kebanyakan bertemakan tauhid dan aqidah. Sedangkan ayat madinah adalah ayat yang turun setelah Nabi hijrah, ayat yang turun di madinah kebanyakan berisikan tentang Hukum-hukum Islam seperti tata cara Beribadah dan Mu’amalah serta ayat-ayatnya kebanyakan panjang serta keadaan geografis dan waktu di sangat menunjang untuk berdakwah, karna di Madinah Rasul menyampaikan isi kandungan dalam al qur’an tanpa ada perdebatan, berbeda dengan ketika rasul menyampaikan isi kandungan al-Qur’an ketika di Makkah.

Menurut al Ja’bari: untuk mengetahui analisis Makiyah dan Madaniyah bisa dari dua jalan:

  1. 1.      Menggunakan Metode Sima’i
  2. Menggunakan Metode Qiyasi

Yang dimaksud dengan metode sima’i adalah ayatnya didengar langsung oleh nabi. Sedangkan metode qiyasi adalah setiap surat yang di dalamnya terdapat lafadz ياايها الناس , dan beliau juga menambahkan, apabila setiap surat yang didalamnya terdapat cerita-cerita tentang nabi dan umat-mat yang tersepikan, maka disebut makiyah. Dan setiap surat yang menunjjukkan adanya فريضة (kewajiban) dan حد hukuman atau batasan-batasan, maka disebut madaniyah[6].

Selanjutnya, ayat turun di makkah di hukumi madinah. Semisal ayat yang berbunyi

ياايها الناس انا خلقناكم من ذكر وانثى  ayat ini turun di makkah namun dihukumi madinah, sebab ayat ini turun setelah nabi hijrah. Contoh lain semisal ayat اليوم اكملت لكم دينكم   ayat ini juga turun di makkah, tapi di hukumi madinah. Bukan hanya ayat yang turun di makkah kemudian dihukumi madaniyah aja yang ada, tapi ayat yang turun di madinah di hukumi makiyah, semisal contoh lafadz yang terdapat pada surat an nahl yang berbunyi والذين هاجروا sampai akhirul ayat,  bahwa ayat ini turun di madinah tapi di مخاطب kan atau di tujukan ke makkah, maka ayat ini di hukumi makiyah.

Kemudian ada juga ayat yang turun di makkah yang mana bentuk lafdznya itu seperti ayat yang turun di madinah, seperti ayat الذين يجتنبوا كبائر الاثم والفواحش الاالمم , lafadz  الفواحش mempunyai makna bahwa setiap perbuatan yang jelek adalah dosa, dan dosa itu sendiri mempunyai حد yaitu hukuman atau batasan. Lafadz khad disini adalah ciri-ciri ayat yang turun di madinah, tapi di hukumi makiyah. Kemudian ayat yang turun di madinah namun bentuknya hampir mirip ciri-ciri ayat yang turun di makkah seperti ayat [7]واذقالوااللهم ان كان هذا هو الحق , ayat ini menerangkan tentang orang –orang musyrik yang  tidak meyakini, bahwa al-Qur’an itu kalamullah[8]. Ciri ayat yang menerangkan seperti ini adalah ciri-ciri ayat yang turun di makkah, namun ayat ini turun di madinah dan di hukumi Madaniyah.

2.4 Analisis Asbabun Nuzul

2.5.1 Berdasarkan riwayat

Dalam analisis ini, dalam peninjauan tafsir asal muwasal turunya ayat  يوصيكم الله فى اولادكم adalah ketika ada seseorang yang bernama khandzalah bin syamardal, ada yang mengatakan pada masa mur’ad bin zaid, beliau adalah orang kaya raya yang menguasai harta anak yatim dan memakanya[1]. Sedangkan berdasarkan hadist. Sebelum turunya ayat, diceritakan ada seseorang yang bernama jabir bin abdillah meminta kepada nabi untuk menjawab pertanyaanya masalah bagaimana cara menginfestasikan uangnya?, kemudian nabi terdiam, dan akhirya ayat يوصيكم الله فى اولادكم  turun[2].  Setelah ayat ini turun, kemudian diceritakan bahwa diceritakan abu mansur dari jabir  bin abdillah[3], ada yang mengatakan dari ‘ato’[4] bahwa sa’ad bin rabi’ mempunyai satu istri dan dua anak perempuan, kemuadian sa’ad meninggal dan harta peninggalanya di bawa seluruhnya oleh pamanya, kemudian istri sa’ad datang kepada nabi, beliau berkata bagaimana anak-anak saya bisa nikah, tanpa adanya harta tersebut? Kemudian rasul menjawab “kembalilah, semoga allah menyelesaikan masalahmu”, kemudian wanita tersebut kembali lagi kepada nabi, dan menangis, akhirnya rasulullah meminta jabir bin abdillah untuk memanggil pamanya, dan pamanya pun diberi nasehat untuk memberikan dua anak perempuan  bagian 2/3 dan untuk ibunya 1/8, kemudian sisanya kamu ambil. Inilah yang menajdikan menculnya ayat selanjutnya للذكر مثل حظ الانثيين

  1. Berdasarkan Sosiahistoris

Melatar belakangi muncunculnya ayat tersebut , sudah jelas bahwa keterpurukan pada zaman dahulu kala terhadap seorang wanita sangatlah jauh bebeda dengan sekarang. Tidak adanya rasa simpatik terhadap sesama ciptaan tuhan mengakibatkan sebuah hukum muncul untuk menyelesaikan problematika masyarakat arab waktu itu. Seperti seorang perempuan yang di perjualbelikan, di nikahi dan di cerai tanpa masa iddah, diperkosa banyak orang dan di anggap seperti hewan karna hanya di ambil kesenanganya saja dan tanpa di beri warisan harta, sampai-sampai. Ibu kandungnya pun di setubuhi, karna di anggap warisan keluarga.[5]

2.5 Analisis Munasabah

Analisis munasabah adalah analisis yang menghubungkan antara ayat dikaji dengan ayat sebelum dan sesudahnya yang mana lebih cenderung terhadap hubungan makna. Dari ayat yang saya kaji, apabila dihubungkan dengan ayat sebelum dan sesudahnya, dapat ditarik sebeuah komponen yakni:

  1. Allah telah menentukan bagian warisan baik itu banyak maupun sedikit bagi laki-laki dan perempuan dalam ikatan keluarga, serta Larangan allah swt memakan  harta anak-anak yatim, karna hukumnya adalah dosa besar.
  2. Anjuran untuk saling menghargai anatara laki-laki dan perempuan, karan keduanya adalah sama-sama ciptaanya dan ketika memberikan harta warisan sangat dianjurkan untuk menwasiatkan harta warisan terlebih dahulu sebelum dibagi.
  3. Pembagian harta waris bersifat kondisional
  4. Tidak bolehnya memberikan harta warisan kepada perempuan dengan secara tidak baik (tidak ikhlas atau terpaksa), serta anjuran untuk memegang penuh tingkah laku perempuan demi kebaikan bersama.


[1] Syaikh muhammad nawawi”Tafsir Al Munir”. Hlm 132

[2] Abi abdillah muhammad bin ismail “Shahihul Bukhari” ,(Kairo : Dar Al Ghad Al Jadid).hlm 1257

[3] Wahidi ali bin ahmad”Asbabun Nuzul” University of Toronto Canada, hlm 1493

[4] Syaikh muhammad nawawi”Tafsir Al Munir”. Hlm 132

[5] Mohammad ali, “ Inilah Muhammad”. (Jakarta: darul Kutubil Islamiyah,2007). Hlm 20


[1] Muhammad Fuad Abdul Baqi “Al Mu’jam Al Mufarras Li Al Fadzi Al Qur’an”. ( Lebanon: Daru Al Ma’rifah).hlm 515

[2] Ibid,, 234

[3] Ibid,,922

[4] Ibid.,52

[5] Ibid.,947

[6] As syuyuthi” Al Itqon Fi Ulumi Al Qur’an. Hal 46

[7] Ibid, hlm 48

[8] Soenarjo, S.H”Al Quran Dan Terjemahnya, (Jakarta: yayasan penterjemah/pentafsir Al-Qur’an).hlm.265

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s