Fathu al-Dzari’ah

FATHU AL-DZARI’AH

  1. 1.      Pengertian Fathu al-Dzari’ah

Secara etimolohis kata fathu al-dzari’ah merupakan gabungan dari dua kata, yaitu fathu dan al-dzari’ah. Kata fathu merupakan bentuk مصدر dari kata فتح- يفتح yang berarti membuka, sedangkan kata keduanya adalah al-dzari’ah yang merupakan kata benda (isim) bentuk tunggal yang berarti jalan, sarana (wasilah) dan sebab terjadinya sesuatu. Bentuk jamak dari adz-dzari’ah (الذَّرِيْعَة) adalah adz-dzara’i (الذَّرَائِع). Karena itulah, dalam beberapa kitab usul fikih istilah yang digunakan adalah sadd adz-dzara’i[1].

Sedangkan secara terminologi, kata fath al-dzari’ah adalah (الأخذ بالذرائع إذاكانت النتيجة مصلحة, لأن المصلحة مطلوبلة)[2] , dalam artian menetapkan hukum atas suatu perbuatan tertentu yang pada dasarnya diperbolehkan, baik dalam bentuk membolehkan (ibahah), menganjurkan (istihab), maupun kewajiban (ijab) karena perbuatan tersebut bisa menjadi sarana perbuatan lain yang memang telah dianjurkan atau diperintahkan.

Satu dari sekian tujuan Islam adalah menghindari kerusakan (mafsadah) dan mewujudkan kemaslahatan, maka jika suatu perbuatan diduga kuat akan menjadi sarana terjadinya perbuatan lain yang baik, maka diperintahkanlah  suatu perbuatan yang menjadi sarana tersebut (fath al-dzari’ah), dan jika sebaliknya suatu perbuatan yang belum dilakukan diduga keras akan menimbulkan kerusakan (mafsadah) maka dilaranglah hal-hal yang mengarah kepada perbuatan tersebut (saddu al-dzari’ah).

 

 

 

  1. 2.      Dasar-dasar Fathu adz-Dzari’ah

Adapun dasar-dasar yang bisa dijadikan rujukan fath al-dzari’ah adalah:

  1. al-Quran

ياايّهاالذِين امنوا اذا نودى للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا الى ذكرالله وذرواالبيع ذلكم خير لكم ان كنتم تعلمون (الجمعة: ٩)

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman apabila diseur untuk menunaikan sembahyang pada hari jum’at, maka bersegeralah kamu untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (al-Jumu’ah: 9)

Ayat di atas menjelaskan bahwa jika mengerjakan shalat Jum’at adalah wajib, maka wajib pula berusaha untuk sampai ke masjid dan meninggalkan perbuatan lain.

Namun yang juga harus digarisbawahi adalah bahwa betapapun adz-dzariah (sarana) lebih rendah tingkatannya daripada perbuatan yang menjadi tujuannya. Pelaksanaan atau pelarangan suatu sarana tergantung pada tingkat keutamaan perbuatan yang menjadi tujuannya.

  1. Kaidah

Di antara kaidah fikih yang bisa dijadikan dasar penggunaan sadd adz-dzari’ah adalah:

مَالاَيَتِمُّ اْلوَاجِبِ اِلاَّبِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Artinya :

“ Apabila suatu perbuatan bergantung pada sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain itu wajib”

Begitu pula segala jalan yang menuju pada sesuatu yang haram maka sesuatu itupun haram, sesuai dengan kaidah :

مَادَلَّ عَلَىَ حَرَامٍ فَهُوَحَرَامٌ

Artinya :

“Segala jalan yang menuju terciptanya suatu pekerjaan yang haram, maka jalan itu pun diharamkan“

 

Kaidah ini merupakan kaidah asasi yang bisa mencakup masalah-masalah turunan di bawahnya. Berbagai kaidah lain juga bersandar pada kaidah ini. Misalnya : menyerahkan harta perang kepada musuh, karena hal itu sebagai tebusan atas kaum mukmin yang ditawan. Menurut ulama malikiyah dan Hanabilah dapat berdampak pada kemaslahatan, sedangkan beberapa jumhur ulama menganggapnya sebagai muqaddimah.

 

  1. 3.        Rukun-rukun Fathu al-Dzari’ah

Perlu diperhatikan bahwa penggunaan fathu al-dzari’ah janganlah berlebih-lebihan, karena penggunaan yang berlebih-lebihan dalam fathu al-dzari’ah mengakibatkan melarang kepada yang mubahdan berlebih-lebihan dalam fathu al-dzari’ah bias membawa kepada membolehkan yang dilarang.

Berkenaan dengan fathu al-dzari’ah ada yang perlu diperhatikan:

  1. Fathu al-dzari’ah digunakan apabila menjadi cara atau jalan untuk sampai kepada maslahat yang dinash kan, karena maslahat dan mafsadat yang dinash kan adalah qoth’I, maka dzari’ah dalam hal ini berfungsi sebagai pelayan terhadap nash.
  2. Tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan soal amanat (tugas-tugas keagamaan) telah jelas bahwa kemudharatan meninggalkan amanat lebih besar dari pada pelaksanaan sesuatu perbuatan atas dasar fathu al-dzari’ah[3].

Sedangkan rukun dari fathu al-dzari’ah sendiri adalah:

  1. Segala perbuatan yang boleh dilakukan saja/makna yang lebih umumnya yaitu perbuatan yang diperbolehkan atau disunnahkan atau diwajibkan.
  2. Segala perbuatan yang dibolehkan dan mengandung nilai maslahah-nya.
  3. 4.        Pendapat para ulama mengenai Fathu adz-Dzari’ah

Terdapat beberapa perbedaan mengenai pendapat para ulama terhadap fathu adz-dzara’I ini. Ibnu Qayyim aj-Jauziyyah dan Imam al-Qarafi, mengatakan bahwa dzari’ah itu adakalanya dilarang yang disebut sad adz-dzari’ah dan adakalnya dianjurkan bahkan diwajibkan yang disebut fath adz-dzari’ah. Misalnya meninggalkan segala aktivitas untuk melaksanakn shalat jum’at yang hukumnya wajib.

Namun berbeda dengan pendapat Wahbah al-Juhaili yang menyatakan bahwa perbuatan tersebut tidak termasuk dzari’ah, tetapi dikategorikan sebagai muqaddimah (pendahuluan) dari suatu pekerjaan. Beliau mengilustrasikan bahwa adz-dzariah adalah laksana tangga yang menghubungkan ke loteng. Sedangkan muqaddimah adalah laksana fondasi yang mendasari tegaknya dinding[4].

Para ulama telah sepakat sepakat tentang adanya hukum pendahuluan tersebut, tetapi mereka tidak sepakat dalam menerimanya sebagai adz-dzari;ah. Ulama Malikiyah dan Hanabilah sepakat mengenai fath adz-dzari’ah, sedangkan ulama Syafi’iyh, Hanafiyah dan sebagian Malikiyyah menyebutnya sebagi muqoddimah, tidak termasuk kedalam kaidah dzari’ah

  1. 5.         Contoh-contoh Fathu al-Dzari’ah

Dzara’i adalah persoalan yang harus diketahui umat Islam, hal ini diungkapkan oleh al-Qorofiy contoh-contoh fathu dzara’i, yaitu[5] :

  1. Memberikan harta rampasan perang/fasilitas  kepada musuh (dalam perang), sebagai tebusan untuk membebaskan tawanan/sandera.
  2. Menyuap seseorang atau pihak tertentu untuk keputusan hukum yg sebenarnya, pada saat ia didzalimi (dianiaya atau direkayasa dalam pengadilan). Artinya, status hukum yg seharusnya ia terima tidak bisa didapatkan kecuali dengan mengeluarkan uang/harta.
  3. Membayar sejumlah harta kepada Negara atas perlindungan dari bahaya, agar kekuatan umat Islam tetap terjaga di Negara tersebut
  4. Memberikan potongan harga/menurunkan harga bagi calon jamaah haji yang ingin ke baitullah
  5. Jika mengerjakan shalat jum’at wajib, maka meninggalkan jual beli ketika akan melaksanakan shalat jum’at pun menjadi wajib
  6. Menuntut ilmu adalah sesuatu yang diwajibkan, maka segala sesuatu yang menghubungkan dengan menuntut ilmu adalah wajib

Maka atas beberapa hal diatas, oleh beberapa ulama membolehkan pelaksannannya dengan alasan fath dzara’i (membuka jalan) untuk sesuatu yang lebih maslahat bagi masyarakat/umat Islam.


[1] Juhaya S. Praja, Ilmu Ushul Fiqih, Pustaka Setia, 1999, hal.132

[2]اصول الفقه الإسلامي, وهبة زحيلى, افاق معرفة متجددة, الصفحة ١٧٣

[3] Djazuli: Ilmu Fiqh, Kencana, 1987, hal.101

[4] اصول الفقه الإسلامي, وهبة زحيلى, افاق معرفة متجددة, الصفحة ١٧٥

[5]  راجع الفروقو ٢/٣٣ , الموافقات ٢/٣٥٢

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s