Nusyuz

  1. A.    Ayat dan Hadist tentang Nusyuz

Ayat al-Qur’an:

 

 الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا (34)

Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.(QS. An-Nisa’:34)

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (128)

Artinya :“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, Maka tidak mengapa bagi keduanya Mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. An-Nisa’:128)

Hadits:

عن معاوية القشيري, قال:قلت:يارسول الله,ماحق زوجة أحدنا عليه, قال: (أن تطعمها إذاطعمت, وتكسوها إذااكتسيت, ولاتضرب الوجه, ولاتقبح, ولاتهجر إلافي البيت) رواهأبوداودوابن ماجه وأحمد والنسائي

     “Dari Muawiyah al-Qusyairiy berkata: aku pernah bertanya kepada Rasulullah, “wahai Rasulullah, apakah hak istri kami?” Beliau menjawab, “memberinya makan jika kamu makan, memberinya pakaian jika kamu berpakaian, tidak memukul wajahnya, tidak mencaci maki, dan tidak mendiamkannya kecuali di dalam rumah“.( H.R. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Nasa’i)

  1. B.     Analisis Lafadz

Melalui ayat ini Allah Swt. mengingatkan kita bahwa terdapat sebab kelebihan seorang laki-laki atas seorang wanita, setelah pada ayat sebelumnya Allah menjelaskan bagian dari masing-masing (pria maupun wanita) dalam waris dan melarang keduanya untuk mengangan-angankan kelebihan yang telah Allah tetapkan bagi sebagian mereka (kaum pria) atas sebagian yang lain (kaum wanita).

Jika kita membuka tafsir-tafsir klasik kalangan ulama terkemuka pada masa lalu, mereka pada umumnya sepakat manakala membedah pengertian “الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ  ”, bahwa laki-laki baik dalam konteks keluarga maupun bermasyarakat, memang ditakdirkan sebagai pemimpin bagi kaum wanita. Ini disebabkan karena terdapat perbedaan-perbedaan yang bersifat natural antara keduanya, dan bukan semata-mata bersifat kasbi atau karena proses sosial,seperti dipahami oleh penganut teori culture.

Pada kalimat  الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء bermakna bahwa kaum pria adalah pemimpin kaum wanita, yang lebih dituakan atasnya, yang menjadi pemutus atas segala perkaranya, dan yang berkewajiban mendidiknya jika melenceng atau melakukan kesalahan. Seorang pria berkewajiban untuk melakukan perlindungan dan pemeliharaan atas wanita. Oleh karena itu, jihad menjadi kewajiban atas pria,dan tidak berlaku bagi wanita. Pria juga mendapatkan bagian waris yang lebih besar daripada wanita karena prialah yang mendapatkan beban untuk menanggung nafkah atas wanita[1].

Imam Ash-Shabuni menyatakan bahwa kaum pria memiliki wewenang untuk mengeluarkan perintah maupun larangan yang wajib ditaati oleh para wanita (istri-istrinya) serta memiliki kewajiban untuk memberikan belanja (nafkah) dan pengarahan sebagaimana kewajiban seorang wali (penguasa) atas rakyatnya[2].

Pada frasaبِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ, huruf ba’ nyaadalah ba sababiyah yang berkaitan erat dengan kata  . قَوَّامُونَDengan begitu dapat dipahami, bahwa kepemimpinan kaum pria atas wanita adalah karena kelebihan yang telah Allah berikan kepada mereka (kaum pria) atas kaum wanita[3].

Dalam tafsirnya yang terkenal, Ibn Katsir menyatakan bahwa laki-laki adalah pemimpin, penguasa, kepala, dan guru pendidik bagi kaum wanita. Ini disebabkan karena berbagai kelebihan laki-laki itu sendiri atas wanita, sesuai dengan firman Allah:

وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Bagi laki-laki ada kelebihan satu tingkat dari wanita”..(QS al-Baqarah: 228). Selain itu, karena laki-lakiberkewajiban menafkahi istri dan anak anaknya.

Dalam kurun yang amat panjang, dari mulai Ibn ‘Abbas, at-Thabari,  bahkan hingga Imam ‘Ali ash-Shabuni, tafsir tersebut tidak banyak digugat, kecuali belakangan manakala pemikiran-pemikiran Islam mulai bersinggungan denganwacana pemikiran Barat dan juga fakta yang memang menunjukkan tidak sejalannya lagi penafsiran tersebut dengan realitas kontemporer.

Ibn ‘Abbas, misalnya, mengartikan kataقَوَّامُونَ  sebagai pihak yang memiliki kekuasaan atau wewenang untuk mendidik wanita. Hal yang kurang lebih sama juga dikemukakan oleh Imam Nawawi al-Bantani (1981: 149) dalamkitab tafsirnya Marah Labid. 

Dengan nada yang sama, at-Thabari menegaskan, bahwa kata    قَوَّامُونَ bermakna penanggung jawab, dalam arti, pria bertanggung jawab dalam mendidik dan membimbing wanita dalam konteks ketaatannya kepada Allah.

Al-Baghawi, ketika menafsirkan kalimat الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ  ,menyatakan bahwa maknanya adalah pria (suami) berkuasa untuk mendidik wanita (istrinya). Artinya, prialah yang menjalankan berbagai kemaslahatan,pengaturan, dan pendidikan atas wanita karena kelebihan yang Allah berikan kepadanya atas wanita. Pria memiliki kelebihan atas wanita dari segi akal, agama, dan kewalian. Pria, misalnya, memiliki kelebihan dalam hal kesaksian, jihad,ibadah (seperti salat Jumat dan salat berjamaah); kebolehan menikahi sampai empat istri; hak talak; dalam warisan mendapat dua bagian; dst. Semua itu tidak dimiliki wanita[4].

Sementara itu, menurut Imam al-Qurthubi, pria adalah pemimpin wanitakarena kelebihan mereka dalam hal memberikan mahar dan nafkah; karena priadiberi kelebihan akal dan pengaturan sehingga mereka berhak menjadi pemimpinatas wanita; juga karena pria memiliki kelebihan dalam hal kekuatan jiwa dan watak. Surat an-Nisa’ ayat 34 ini juga menunjukkan kewajiban pria untuk mendidik wanita[5].

Sedangkan Imam asy-Syaukani, ketika menafsirkan ayat di atas, menyatakanbahwa pria adalah pemimpin wanita yang harus ditaati dalam hal-hal yangmemang diperintahkan Allah. Ketaatan seorang istri kepada suaminya dibuktikan, misalnya, dengan berperilaku baik terhadap keluarga suaminya serta menjaga dan memelihara harta suaminya. Ini karena Allah telah memberikan kelebihan atas suami dari sisi keharusannya memberi nafkah dan berusaha[6]

Tentang kelebihan laki-laki atas wanita, Imam ‘Ali ash-Shabuni dalamtafsirnya juga mengatakan bahwa kalimat الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءAdalah jumlah ismiyyah yang berfungsi sebagai  dawam dan istimrar  (tetap dan kontinu).

  1. C.    Asbabun Nuzul

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan kasus yang dialami oleh Sa‘id binRabi‘ yang telah menampar istrinya, Habibah binti Zaid bin Abi Hurairah, karena telah melakukan nusyuz  (pembangkangan). Habibah sendiri kemudian dating kepada Rasulullah Saw. dan mengadukan peristiwa tersebut kepada Rasul. Rasul kemudian memutuskan untuk menjatuhkan qishas  kepada Sa‘id. Maka turunlah surat an-Nisa‘ ayat 34 ini. Rasulullah saw. pun lalu bersabda (yang artinya), “Aku menghendaki satu perkara, sementara Allah menghendaki perkara yang lain. Yang dikehendaki Allah adalah lebih baik.” Setelah itu, dicabutlah qishas tersebut[7].

Dalam riwayat yang lain, sebagaimana secara berturut-turut dituturkan oleh al-Farabi, ‘Abd bin Hamid, Ibn Jarir, Ibn Mundzir, Ibn Abi Hatim, Ibn Murdawiyah, dan Jarir bin Jazim dari Hasan. Disebutkan bahwa seorang lelaki Anshar telah menampar istrinya. Istrinya kemudian datang kepada Rasulullah Saw dan mengadukan permasalahannya. Rasulullah memutuskan qishash di antara keduanya. Maka turunlah ayat berikut:

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا (114)

 

Artinya: “Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu,  dan Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha : 114).

Ayat di atas tersebut sebagai teguran kepadanya dan surat an-Nisa’ ayat 34 sebagai ketentuan hak suami di dalam mendidik istrinya[8].

  1. D.    Munasabah dengan Ayat

Ayat Sebelumnya:

وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا (33)

      Artinya : “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, Maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sungguh Allah menyaksikan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’:33)

Munasabah surat An-Nisa’ ayat 33 di atas dengan penggalan kata yang kami pilih, Ahli waris terdiri dari kaum kerabat si mayit, baik laki-laki maupun perempuan. Bagian waris laki-laki lebih besar daripada bagian waris perempuan, karena pada hakikatnya laki-laki adalah pelindung perempuan dan karena laki-laki mempunyai kewajiban memberi nafkah. Selain itu, laki-laki lebih mempunyai kemampuan intelektual dan manajerial.

 

Ayat sesudahnya :

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا (35)

Artinya :“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud Mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS. An-Nisa’ :35)

Munasabah surat An-Nisa’ ayat 35 diatas dengan penggalan kata yang kami pilih. Laki-laki mempunyai kewajiban mengurus istrinya karena laki-laki lebih punya kemampuan intelektual. Dalam hal ini sebab laki-laki mendapat hak waris lebih besar daripada perempuan (istri). Waris ini juga merupakan sarana laki-laki (suami) dalam mendidik perempuan (istri). Seorang istri wajib menaati suami karena suami secara sungguh-sungguh menjaga dan mengurusi istri. Maka dari itu, apabila istri mulai membangkang, suami juga tetap mendidik istri dengan cara-cara tersebut. Namun, apabila cara tersebut gagal maka masing-masing keluarga mengirim juru damai supaya persengketaan tersebut selesai.

  1. E.     Hukum yang Terkandung

Menurut Muhammad ‘Ali al-Sabuni, apabila terjadi nusyuz yang dilakukan oleh isteri maka Islam memberikan cara yang jelas dalam mengatasinya:

  1. Memberikan nasihat dan bimbingan dengan bijaksana dan tutur kata yang baik.
  2. Memisahi ranjang dan tidak mencampurinya (mengaulinya).
  3. Pukulan yang sekiranya tidak menyakitkan, misalnya dengan siwak dan sebagainya, dengan tujuan sebagai pembelajaran baginya.
  4. Kalau ketiga cara diatas sudah tidak berguna (masih belum bisa mengatasi isteri yang nusyuz), maka dicari jalan dengan bertahkim (mengangkat hakim) untuk menyelesaikannya[9].

Mengenai tiga tindakan yang harus dilakukan suami terhadap isteri yang nusyuz berdasarkan pada surat an-Nisa’ Ayat 34 di atas tersebut, ulama fiqh berbeda pendapat dalam pelaksanaanya, apakah harus berurutan atau tidak. Menurut jumhur, termasuk mazhab Hambali, tindakan tersebut harus berurutan dan disesuaikan dengan tingkat dan kadar nusyuznya. Sedangkan mazhab Syafi’i, termasuk Imam Nawawi, berpendapat bahwa dalam melakukan tindakan tersebut tidak harus berjenjang, boleh memilih tindakan yang diinginkan seperti tindakan pemukulan boleh dilakukan pada awal isteri nusyuz[10]. Hal itu dengan catatan jika dirasa dapat mendatangkan manfaat atau faedah jika tidak maka tidak perlu, malah yang lebih baik adalah memaafkannya[11].

Sebagai akibat hukum yang lain dari perbuatan nusyuz menurut jumhur ulama, mereka sepakat bahwa isteri yang tidak taat kepada suaminya (tidak ada tamkin sempurna dari isteri) tanpa adanya suatu alasan yang dapat dibenarkan secara syar’i atau secara ‘aqli maka isteri dianggap nusyuz dan tidak berhak mendapatkan nafkah. Dalam hal suami beristeri lebih dari satu (poligami) maka terhadap isteri yang nusyuz selain tidak wajib memberikan nafkah, suami juga tidak wajib memberikan giliranya. Tetapi ia masih wajib memberikan tempat tinggal[12].

Menurut madzhab Hanafi, apabila seorang isteri mengikatkan (tertahan) dirinya dirumah suaminya dan dia tidak keluar tanpa seizin suaminya, maka isteri seperti ini dianggap taat. Sedangan bila ia keluar rumah atau menolak berhubungan badan dengan alasan yang tidak dapat dibenarkan secara syar’i maka ia disebut nusyuz dan tidak mendapatkan nafkah sedikitpun, karena sebab wajibnya nafkah menurut ulama Hanafiyah adalah tertahannya seorang isteri di rumah suami[13].

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) dijelaskan bahwa kewajiban-kewajiban suami yang berupa kewajiban memberi nafkah, menyediakan tempat kediaman bagi isteri, biaya rumah tangga, biaya perawatan dan pengobatan bagi isteri berlaku semenjak adanya tamkin sempurna dari isterinya.Dan kewajiban-kewajiban tersebut menjadi gugur apabila isteri nusyuz[14].

Dalam Pasal selanjutnya dijelaskan bahwa selama isteri dalam keadaan nusyuz kewajiban suami terhadap isterinya seperti yang telah disebutkan di atas gugur kecuali yang berkaitan dengan hal-hal untuk kepentingan anaknya. Dan untuk kewajiban suami terhadap isteri nusyuz yang gugur tersebut belaku kembali jika isteri sudah tidak nusyuz lagi[15].

Begitu pula akibat hukum yang berupa perceraian, hal ini dimungkinkan jika kedua belah pihak sudah tidak mungkin untuk berdamai lagi, hal ini juga sesuai dengan ketentuan yang ada dalam undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang hukum perkawinan pada Pasal 39 Ayat (2) jo. Inpres Nomor 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam dalam Pasal 116.

Dalam hal akibat hukum bagi nusyuznya suami maka tidak ada ketentuan yang secara jelas mengatur tentang kewenangan atau hak isteri dalam menindak suaminya tersebut, walaupun seorang isteri memiliki kewenangan untuk ikut menanggulangi kekeliruan dan penyelewengan yang dilakukan suami, hal itu sebatas tanggung jawabnya sebagai seorang isteri. Seorang isteri tidak dibenarkan menjalankan atau menerapkan metode pengacuhan atau pemukulan seperti yang dilakukan suami kepadanya  saat ia nusyuz, hal ini disebabkan oleh karena adanya perbedaan qodrat antara laki-laki dan wanita, serta lemahnya isteri untuk dapat menanggulangi suami[16].

Seorang isteri dalam menyikapi nusyuznya suami hendaknya berusaha sekuat tenaga untuk menasihati suaminya akan tanggung jawabnya atas isteri dan anak-anaknya. Hal ini tentu saja ia lakukan dengan cara musyawarah secara damai dengan tutur kata lembut dan halus. Tidak lupa ia juga harus mengintropeksi diri atas segala kemungkinan dirinya sebagai pemicu suaminya dalam melakukan penyimpangan tersebut[17].

Apabila dengan jalan musyawarah tidak tercapai perdamaian juga, maka menurut imam Malik sebagaimana dikutip oleh Nurjannah Ismail isteri boleh mengadukan suaminya kepada hakim (pengadilan). Hakamlah yang akan memberikan nasihat kepada sang suami. Apabila tidak dapat dinasihati, hakam dapat melarang sang isteri untuk taat kepada sang suami, tetapi suami tetap wajib memberi nafkah. Hakam juga membolehkan sang isteri untuk pisah ranjang, bahkan tidak kembali ke rumah suaminya. Jika dengan cara demikian pun, sang suami belum sadar juga, maka hakam dapat menjatuhkan hukuman pukulan kepada sang suami. Setelah pelaksanaan hukuman tersebut, sang suami belum juga memperbaiki diri, maka hakam boleh memutuskan perceraian dintara keduanya jika isteri menginginkannya. Pendapat imam Malik ini seimbang dengan sikap yang harus diambil atau ditempuh oleh suami saat menghadapi isteri nusyuz, sebagaimana dijelaskan dalam surat an-nisa’ (4): 34, bedanya dalam kasus nusyuznya suami ini yang bertindak adalah hakam[18].


[1]Dr. Wahbah Zuhaili, Tafsir al-Munîr , juz V, 54.

[2]‘Ali ash-Ash-Shabuni, Shafwah at-Tafâsîr ,  273.

[3] Mahmud al-Andalusi al-Baghdadi, Ruh al-Ma‘anii , 23.

 

[4]Dr. Wahbah Zuhaili, op.cit., 54.

[5]Abdur Rahman ibn al-Kamal Jalaluddin as-Suyuthi, Dar al-Mansyur fi at-Tafsir al-Ma’tsur , Beirut: Darul Fikr ,juz III, 512-513.

[6]Abu Ja’far, Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Khalid ath-Thabari, Jami’ al-Bayan ‘anTa’wil al-Qur’an, V/48. Beirut: Dar al-Fikr.

[7]Dr. Wahbah Zuhaili, Tafsir al-Munir , juz V, 53-54.

[8]Kh. Qamaruddin Saleh, dkk.  Asbabun Nuzul, (Bandung: CV. Diponegoro) , 1995, 131.

[9]Muhammad ‘Ali as-Sabuni, Rawaiu al-Bayan., 370-371.

[10]Ensiklopedi Hukum Islam, 1355

[11]Muhammad Nawawi, Uqud al-Lujjayn., 7.

[12]Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam., 81

[13]Muhammad Jawad Mugniyyah, Al-Ahwal asy-Syakhsiyyah, (Bairut: Dar al-Ilm Li al-Malayin, 1964), 102.

[14]KHI, Pasal 80 Ayat (4), (5) dan (7).

[15]Ibid., Pasal 84 Ayat (2), (3) dan (4).

[16]Saleh Ganim, Nusyuz, 60.

[17]Ibid., 61

[18]Nurjannah, Perempuan Dalam Pasungan; Bias Laki-laki Dalam Penafsiran,cet. I, (Yogyakarta: LkiS, 2003),  279.

Iddah Wanita Cerai tidak Hamil

  1. A.    Penjelasan Ayat

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (228)

                                       

Artinya : “ wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari kiamat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibanya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. Al-Baqarah: 228).

  1. B.     Analisis  Lafad

 وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

Maksudnya perempuan yang dicerai disini adalah perempuan yang telah dijima’dan tidak sedang dalam keadaan hamil atau wanita yang putus rutinitas haidhnya, karena wanita yang belum disetubuhi tidak ada ‘iddah baginya. Sebagaimana disinggung dalam firman Allah swt:

ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا فَمَتِّعُوهُنَّ وَسَرِّحُوهُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (49)

Artinya:”lalu kamu menthalak perempuan sebelum kamu menyetubuhinya (bersetubuh dengan dia), maka tidak ada lagi mereka’iddah.(QS. Al-Ahzab:49)

Dalam firman Allah terkandung Bi Anfusihinna terkandung isyarat yang menyatakan bahwa wanita yang berada dalam masa ‘iddah wajib mengekang keinginanya untuk kawin lagi dan menahan nafsu syahwatnya sampai berakhir masa tersebut.

Para ulama madzab berbeda pendapat mengenai pengertian quru’. Imam malik dan Syafi’i menggartikan quru’dengan masa suci, yang apabila seorang suami menjatuhkan talak kepada istrinya pada masa suci maka ‘iddahnya dihitung sejak masa itu yang kemudian disempurnakan dengan dua kali masa suci sesudahnya.

Sedangkan Imam Hanafi dan Hambali mengartikan quru’ itu  dengan masa haidh, yang apabila seorang wanita dicerai suaminya dalam keadaan suci, maka ‘iddahnya dihitung sejak pertama kali ia haidh setelah berakhir masa sucinya ketika ia diceraikan. Dengan kata lain ia harus menjalani ‘iddahnya tiga kali haidh secara penuh.

Kemudian Allah SWT, menjelaskan hikmah yang terkandung dalam masalah masa menunggu yang terkait erat dengan hukum lain melalui firman-Nya:

 وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ

Tidak diperbolehkan bagi kaum wanita menyembunyikan apa yang telah diciptakan oleh Allah dalam rahim mereka, jika mereka telah merasakan adanya bayi-bayi dalam perut mereka. Dan jangan pula memperpanjang masa haidh dengan sengaja. Kasus semacam ini telah banyak terjadi di Mesir pada masa sekarang ini, dimana kaum wanita yang ditalak telah memperpanjang masa haidh dengan berbagai cara apabila mereka sulit mendapatkan jodoh kembali. Hal ini mereka lakukan karena pada Qodhi telah mewajibkan bekas suami-suami mereka menafkahi mereka selama masa ‘iddah. Oleh karena itu, Departemen Kehakiman di Mesir telah menetapkan batas maksimal masa ‘iddah selama satu tahun Qomariah sebagaimana pendapat yang dianut oleh Imam Malik ra.

Pada masa jahiliyah, ada seorang wanita yang melakukan perkawinan beberapa saat berselang setelah ia ditalak oleh suaminya (masih dalam masa ‘iddah). Tidak beberapa lama, wanita tersebut mengandung sebagai hasil hubunganya dengan suami pertama, tetapi anak yang lahir dari wanita tersebut telah dinasabkan kepada suami yang kedua. Setelah agama islam datang, kebiasaan ini telah dilarang karena mengandung unsur penipuan dan pemalsuan dengan lahirnya seorang anak yang tidak berasal dari suami yang baru. Oleh karena itu, islam memerintahkan mereka agar melakukan ‘iddah setelah berpisah dengan suami mereka supaya diketahui bahwa rahim mereka telah bersih (tidak mengandung).

إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

     Jika mereka benar-benar beriman kepada Allah yang telah menetapkan halal dan haram untuk kemaslahatan hamba-hamba-Nya, dan jika mereka benar-benar beriman kepada hari akhir, dimana setiap orang akan dibalas sesuai dengan amal perbuatanya- maka janganlah sekali-kali mereka menyembunyikan apa yang ada pada rahim mereka. Sebab, jika mereka percaya bahwa dengan mengikuti petunjuk ini akan mendapat pahala dan keridhaan – dan jika mengabaikanya  menyebabkan celaka – maka hal ini membutuhkan ketaatan dan keikhlasan dalam melaksanakan perintah ini. Dan dalam ayat ini jelas terkandung nada ancaman yang keras.

 وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا

       Suami dari wanita yang ditalak lebih berhak mengembalikan dirinya kepadanya pada masa ‘iddah, jika suami tersebut bermaksud memperbaiki dan menggaulinya kembali dengan baik. Bahwasanya memperbaiki hubungan suami istri – dengan mengembalikan bekas istri kepangkuan suaminya – dan hal ini tidak akan bisa terwujud kecuali apabila masing-masing pihak memenuhi hak-hak yang harus dilaksanakannya – maka Allah menjelaskan secara ringkas suatu undang-undang yang mengatur hubungan timbal balik antara suami dengan istri, yaitu adanya persamaan hak antara keduanya dalam segala hal kecuali satu hal yang akan dijelaskan dalam ayat berikut:

 وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَة

Sesungguhnya pada seorang lelaki (suami) ada hak-hak dan kewajiban atas istrinya, demikian pula sebaliknya.

Maksudnya ialah, bahwa hak dan kewajiban atas kedua belah pihak, pengaturanya diserahkan kepada norma-norma, tata cara dan kebiasaan yang berlaku pada suatu masyarakat dalam bermu’amalah. Yang dimaksud dengan persamaan hak disini ialah bahwa antara keduanya hendaknya saling memberi dan saling mencukupi.[1] Disebutkan  dalam shahih Muslim, dari Jabir, bahwa Rosulullah bersabda dalam khutbah beliau ketika haji wada’:

“bertaqwalah kepada Allah dalam urusan wanita. Karena sesungguhnya kalian telah menikahi mereka dengan amanat Allah dan menghalalkan kemaluanya dengan kalimat Allah. Kalian memiliki hak atas mereka agar mereka tidak mengizinkan seorang pun yang kalian benci menginjak tikar (rumah) kalian. Jika mereka melakukan hal itu, maka pukulah dengan pukulan yang tidak melukai. Dan diwajibkan atas kalian (suami) untuk memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan baik”.

عن معاوية القشيري, قال:قلت:يارسول الله,ماحق زوجة أحدنا عليه, قال: (أن تطعمها إذاطعمت, وتكسوها إذااكتسيت, ولاتضرب الوجه, ولاتقبح, ولاتهجر إلافي البيت) رواهأبوداودوابن ماجه وأحمد والنسائي

     “Dari Muawiyah al-Qusyairiy berkata: aku pernah bertanya kepada Rasulullah, “wahai Rasulullah, apakah hak istri kami?” Beliau menjawab, “memberinya makan jika kamu makan, memberinya pakaian jika kamu berpakaian, tidak memukul wajahnya, tidak mencaci maki, dan tidak mendiamkannya kecuali di dalam rumah“.( H.R. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Nasa’i)

Waqi’ meriwayatkan dari Basyir bin Sulaiman dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia mengatakan:” aku suka berhias untuk istri sebagaimana aku suka istriku berhias untukku” [2]   

Demikianlah pembagian kerja yang sesuai dengan fitrah masing- masing sebagai suami istri. Dalam hal ini, tidak ada larangan untuk mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga yang bisa membantu meringankan pekerjaan keduanya, jika hal ini memang dibutuhkan. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh firman Allah dalam ayat ini:

  وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ

   “ dan tolong menolonhlah kamu dalam (mengerjakan)kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolonh menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah..” (QS. Al-Maidah:2) [3]

وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Kalimat penutup ayat tersebut menunjukan pada suatu fakta bahwa kebijaksanaan Allah mengharuskan setiap orang dimasyarakat melaksanakan tugas-tugas yang telah dipersiapkan oleh hukum penciptaan dan semuanya itu disesuaikan dengan struktur tubuh dan ruhnya.

  1. C.    Ayat dan Hadis Pendukung

Surat ath-Thalaq: 1

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ لا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلا يَخْرُجْنَ إِلا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ لا تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا

Artinya: Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu idah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru. (QS.Ath-Thalaq:1)

Surat  ath-Thalaq: 6

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ

Artinya: Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. (QS.ath-Thalaq: 6)

Hadis yang Mendukung:

وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا ( أَنَّهُ طَلَّقَ اِمْرَأَتَهُ – وَهِيَ حَائِضٌ – فِي عَهْدِ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَسَأَلَ عُمَرُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ ذَلِكَ ? فَقَالَ :  مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا , ثُمَّ لْيُمْسِكْهَا  حَتَّى تَطْهُرَ , ثُمَّ تَحِيضَ , ثُمَّ تَطْهُرَ , ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ , وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ بَعْدَ أَنْ يَمَسَّ , فَتِلْكَ اَلْعِدَّةُ اَلَّتِي أَمَرَ اَللَّهُ أَنْ تُطَلَّقَ لَهَا اَلنِّسَاءُ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya: “Dari Ibnu Umar bahwa ia menceraikan istrinya ketika sedang haid pada zaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Lalu Umar menanyakan hal itu kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan beliau bersabda: “Perintahkan agar ia kembali padanya, kemudian menahannya hingga masa suci, lalu masa haid dan suci lagi. Setelah itu bila ia menghendaki, ia boleh menahannya terus menjadi istrinya atau menceraikannya sebelum bersetubuh dengannya. Itu adalah masa iddahnya yang diperintahkan Allah  untuk menceraikan istri.” Muttafaq Alaihi.

  1. D.    Asbabul Nuzul

Abu  Dawud dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Asma binti Yazid ibnus-Sakan al-Anshariyah, dia berkata,”Saya dicerai pada zaman Rosulullah dan ketika itu belum ditetapkan ‘iddah untuk para wanita yang dicerai. Maka turunlah firman Allah,

  وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

      Ats-Tsa’labi, Hibbatullah bin Salamah dalam kitab an-Naasikh dan Muqatil meriwayatkan bahwa  pada masa Rosulullah, Ismail bin Abdullah al-Ghifari mencerai istrinya, Qatilah, dan dia tidak tahu bahwa istrinya sedang hamil. Kemudian setelah beberapa waktu dia baru tahu bahwa istrinya sedang hamil, maka diapun merujuknya kembali. Lalu istrinya tersebut melahirkan, namun anaknya meninggal  dunia. Maka turunlah firman Allah,

 [4]  وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

  1. E.     Penjelasan Kata

اْلمُطَلَّقَاتُ  - al-Mutallaqatu : maksudnya ialah istri-istri yang ditalak dan diperbolahkan kawin lagi setelah habis masa menunggu dan sudah pernah mengalami haidh. Sebab haidh merupakan pertanda bahwa seorang wanita sudah siap untuk dibuahi dan pembuahan inilah yang menjadi maksud utama dari perkawinan.

التَّرَبُّصْ – at-Tarabbus : menunggu

الْقُرُوْء al-Quru’ : bentuk tunggalnya qur’un dan qar’un. Artinya, terkadang menunjukan makna haidh dan terkadang diartikan suci. Madzhab Hanafi dan Hambali mengatakan bahwa yang dimaksud dengan qur’un ialah haidh, sedangkan madzhab Syafi’I dan Imam Maliki mengartikan suci.

وَمَافِى اَرْحَمِهِنَّwa ma fi arhamihinna: mencakup haidh dan bayi.

الْبُعْلَةْal-bu’lah: bentuk tunggalnya Ba’lun. Artinya suami.

الدَّرَجَةْad-darajah: maksudnya ialah sebagaimana dalam ayat berikut ini:

الرِّجَا لُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاءِ

“kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita….”(an-Nisa’:34).[5]

  1. F.     Kewajiban Suami-Istri selama ‘Iddah

v  Kewajiban suami:

Suami yang mentalak istrinya ia tetap wajib member belanja dan tempat tinggal istrinya selama  massa ‘iddah belum  habis. Dengan ketentuan  sebagai berikut:

  • Wanita yang ditalak raj’I berhak menerima belanja dan tempat tinggal,
  • Wanita yang ditalak ba’in, ia tidak hamil berhak menerima tempat tinggal saja,
  • Wanita yang ditinggal mati suaminya, baik hamil atau tidak, ia tidak berhak memperoleh uang belanja maupun tempat tinggal, karena ia berhak mendapatkan warisan.

v  Kewajiban Istri

Wanita yang ditalak suaminya wajib menetap dirumah suami, selama masa ‘iddahnya belum  habis, pendapat ini didasarkan pada firman Allah:

    لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ

        Artinya: janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah(di izinkan) keluar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan kkeji yang jelas. (Q.S. at-Thalaq: 1)[6]

  1. G.    Munasabah Ayat

Ayat sebelumnya:

وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya:  Dan jika mereka berazam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Maksudnya ketika seorang suami itu mempunyai niat untuk menthalak istrinya maka Allah mengetahui bahwasanya suami tersebut mempunyai keinginan untuk menthalak si istri.

Analisis lafad sesudahnya:

  وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (228) الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَنْ يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (229) فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (230) وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ وَلَا تَتَّخِذُوا آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (231)

 

     Penjelasan:

Dalam ayat 228 menjelaskan tentang masalah iddah bagi orang yang tidak dalam keadaan hamil dan masih mengalami masa haid, kemudian dalam ayat 229 dijelaskan bahwa  saat seorang wanita dalam masa iddah tidak diperbolehkan bagi suami untuk menuntut kewajiban istri terhadap suami kecuali jika suami telah merujuk istrinya kembali, dalam ayat 230 menjelaskan bagi seorang suami ketika istri masih dalam keadaan ‘iddah tidak boleh dirujuk jika memang dikhawatirkan adanya batasan larangan-laranga Allah, Dalam ayat 231 menyatakan bahwa saat istri dalam keadaan ‘iddah juga dilarang memperlakukan sang istri dengan perlakuan yang buruk.

  1. H.    Hukum-hukum yang Terkandung
  • Penjelasan mengenai masa ‘iddah untuk wanita yang ditalak jika ia sedang haidh ialah menunggu selama tiga kali haidh atau tiga kali suci, maksudnya perempuan yang dicerai disini adalah perempuan yang telah dijima’dan tidak sedang hamil atau wanita yang telah putus rutinitas haidnya. Karena wanita yang belum disetubuhi tidak ada ‘iddah baginya. Sebagaimana disinggung dalam firman Allah SWT:

ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا

Artinya:”lalu kamu menthalaq perempuan sebelum kamu menyentuhnya(bersetubuh dengan dia), maka tidak ada bagi mereka ‘iddah.(Al-Ahzab:49)

Sedangkan ‘iddah wanita hamil adalah melahirkan kandunganya. Sebagaimana firman Allah swt:

وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Artinya:”perempuan-perempuan yang hamil, ‘iddahnya adalah sampai mereka melahirkan kandunganya”.(Athalaq: 4).

Adapun wanita yang tidak haidh ataupun wanita yang telah putus haidhnya, mempunyai ‘iddah tiga bulan. Sebagaimana Allah swt telah berfirman:

وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ

Artinya: “perempuan-perempuan yang telah putus asa daripada haidh, jika kamu ragu-ragu(tentang  ‘iddahnya), maka ‘iddahnya tiga bulan”.(Athalaq: 4)

Dari sini maka jelas bahwa ayat tersebut mempunyai maksud khusus, yakni bahwa ‘iddah yang dimaksudkan dalam ayat tersebut yaitu ‘iddahnya wanita yang dicerai yang telah dijima’, manakala dia bukan anak kecil atau telah putus rutinitas haidhnya.[7] 

  • Apakah ayat itu umum untuk tiap perempuan yang diceraikan? Firman Allah: وَالمُطَلَّقَاتُ (perempuan-perempuan yang diceraikan suaminya…/al-Baqarah:228) adalah bersifat umum mencakup thalaq ba’in dan thalaq raj’i. Sedangkan firman Allah swt: وَبُعُوْلَتُهُنَّ آّحَقُّ بِرَدِّهِنَّ (suami mereka lebih patut kembali kepadanya../al-Baqarah:228), adalah khusus bagi”thalaq raj’I” bukan “thalaq ba’in”. Karena bagi wanita yang berthalaq ba’in adalah berhak menentukan dirinya sendiri. Ibnu khatsir berkata:” ayat ini adalah khusus pada thalaq raj’i. Adapun ketika turun ayat ini belum ada perempuan berthalaq ba’in. “thalaq ba’in” itu hanya ada setelah mereka dibatasi dengan thalaq tiga. Kondisi turunya ayat ini adalah, bahwa suami berhak kembali kepada istrinya, walaupun dia telah menthalaqnya seratus kali. Namun setelah mereka dibatasi dengan thalaq tiga, maka ada orang yang  terthalaq ba’in dan ada pula bukan ba’in.[8]     
  • Seorang wanita yang ditalak haram hukumnya menyembunyikan haidh atau kehamilan yang telah diciptakan Allah di dalam rahimnya dengan maksud apapun,
  • Seorang suami lebih berhak untuk merujuk istrinya yang ditalaknya, jika belum habis masa ‘iddahnya, bahkan dikatakan ia adalah tetap menjadi istrinya berdasarkan dalil jika ia meninggal, suaminya tetap mewarisinya dan sebaliknya jika suaminya yang meninggal maka ia pun mewarisinya. Dan wanita ini tidak halal untuk dilamar atau dinikahi selama ia dalam masa ‘iddah,
  • Penetapan   hak-hak bagi masing-masing suami-istri atas pasanganya,
  • Penetapan kepemimpinan seorang laki-laki terhadap wanita, karena Allah telah memberikan kepadanya berbagai keistemewaan yang tidak  ditemukan pada wanita,

Tujuan dari adanya ‘iddah adalah untuk menghilangkan rasa keraguan mengenai kosongnya rahim mantan istri, serta utuk memudahkan terjadinya  rujuk kembali. Dengan adanya limit waktu tunggu wanita yang dicerai, serta keberadaannya yang masih tinggal serumah dengan suami, sangat memungkinkan bagi suami akan muncul kesadaran untuk merujuk kembali.[9]


[1] Ahmad Mustofa al-Maragi (selanjutnya disebut Mustofa), Terjemah Tafsir al-Maragi, (Semarang: CV. Toha Putra, 1993), 283.

[2]  Shafiyyurahman al-Mubarakfuri, Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, (Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2007), 170.

[3] Mustofa,  Op.Cit., 283.

[4] Jalaluddin as-Suyuthi, Sebab Turunya Ayat al-Qur’an, (Depok: Gema Insani, 2008), 97.

[5] Mustofa,  Op.Cit., 282.

 

[6] SMA Wahid Hasim, Fiqh Munakahat untuk Kalangan Sendiri, (Tebuireng, Jombang), 23.

[7]  Muhammad Ali as Shobuni (selanjutnya disebut ali as shobuni), Rowai’ul Bayan,  (Bairut: Maktabah ‘isriyyah, 2010), 57.

[8] Ibid., 64.

[9] Abu Bakar Jabir al-Jazari, Tafsir al-Aisar, (Jakarta: Darus  Sunnah Pres, 2006), 375.

Larangan Menikah Dengan Orang Musyrik

  1. Analisis Lafadz

وَلا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Artinya :

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (Qs. Al Baqarah [2]: 221)

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلا الْمُشْرِكِينَ

Artinya :

Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. (Al-Baqarah, 2; 105)

وَلَامَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْأَعْجَبَتْكُمْ

Sesungguhnya wanita hamba sahaya yang beriman, meskipun tidak berharta dan rendah kedudukannya lebih baik dari pada seorang wanita musyrik merdeka dengan segala kemuliaan kemerdekaan dan kemuliaan nasibnya, meskipun ia sangat menarik hatimu dengna kecantikan dan harta yang ia miliki serta hal-hal lain yang menyebabkan seorang lelaki akan terpikat karenanya.[1]

Dengan iman seorang wanita akan mencapai kesempurnaan agamanya, dan dengan harta dan kedudukannya ia memperoleh kesempurnaan dunianya. Memelihara agama lebih baik dari pada memelihara urusan dunia, apabila tidak mampu memelihara keduanya. Dengan demikian, maka sempurna pulalah manfaat duniawiyahnya dengan tercapainya suatu kehidupan rumah tangga yang harmonis, yang saling menjaga dan memelihara baik diri maupun harta, serta mendidik anaknya dengan pendidikan yang baik dan menghiasi anaknya dengan akhlak yang mulia. Maka jadilah mereka contoh yang baik bagi sesamanya.

Ibnu majah meriwayatkan sebuah hadis dari sahabat umar ra. Bahwa Nabi saw pernah bersabda :

 

لَاتُنْكِحُوْا النِّسَأَ لِحُسْنِهِنَّ, فَعَسَى حُسْنَهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ, وَلَا تُنْكِحُوْهُنَّ عَلَى أَمْوَالِهِنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ, وَأَنْكِحُوْهُنَّ عَلَى اّلدِيْنِ, فِلاَمَةٌ سَوْادَءِ ذَاتُ دِيْنٍ أَفْضَلُ.

 

Artinya :

Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya akan mengundang malapetaka. Dan janganlah kalian menikahi wanita karena harta bendanya, bisa jadi harta bendanya akan membuatnya berlaku semena-mena. Dan nikahilah wanita karena agamanya. Sungguh budak wanita hitam dan beragama itu lebih baik.

  1. Asbabun Nuzul

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya“wa la tankihul musyrikati hatta yuminna” (S. 2:221)َ Sebagai petunjuk atas permohonan Ibnu Abi Murtsid Al-Ghanawi yang meminta izin kepada Nabi SAW untuk menikah dengan seorang wanita musyrik yang cantik dan terpandang.[2]

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kelanjutan ayat tersebut di atas, dari mulai “wala amatun mu’minatun khairun sampai akhir ayat (S. 2:221), Berkenaan dengan Abdullah bin Rawahah yang mempunyai seorang hamba sahaya wanita. Pada suatu waktu ia marah kepadanya, sampai menamparnya. Ia sesekali kejadian itu, lalu menghadap rasulullah untuk menceritakan hal itu : Saya akan memerdekakan dia dan mengawininya lalu ia laksanakan. Orang-orang pada waktu itu mencela dan mengejeknya atas perbuatannya itu.

Ayat tersebut diatas menegaskan bahwa menikahi seorang hamba sahaya muslimah lebih baik daripada menikahi seorang wanita cantik nan terpandang namun dia musyrikah.

  1. Pendapat Ulama’

Suatu golongan mengatakan bahwa Allah telah mengharamkan menikahi wanita-wanita musyrik dalam surah Al-Baqarah, kemudian sebagian dari wanita-wanita musyrik tersebut (wanita-wanita ahlul kitab) dinasakh~, dimana Allah telah menghalalkan mereka dalam surah Al-Maa’idah. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, pendapat ini pun dikemukakan oleh Malik bin Anas, Sufyan bin Sa’id, Ats Tsauri, dan Abdurrahman bin Amru Al Auza’i.

Qatadah dan Sa’id bin Jubair berkata, “Lafadz ayat ini bersifat umum (sehingga mencakup) setiap wanita kafir, namun yang dimaksud adalah (makna yang) khusus, yaitu wanita-wanita Ahlul Kitab. Makna yang khusus ini dijelaskan oleh aya dalam surah Al Maa’idah, sedangkan yang umum sama sekali tidak mencakup wanita-wanita Ahlul Kitab.”

Ishak bin Ibrahim Al Harabi berkata, “sekelompok orang berpendapat untuk menjadikan ayat dalam surah Al Baqarah sebagai ayat yang menasakh (menghapus), sedangkan ayat dalam surah Al Maa’idah sebagai ayat yang dinasakh. Mereka mengharamkan menikahi setiap wanita musyrik, baik Ahlul Kitab maupun non Ahlul Kitab.

Nafi’ berkata, “Bahwa Abdullah bin Umar jika ditanya tentang seorang lelaki yang akan menikahi wanita Nasrani atau Yahudi, maka dia menjawab, ‘Allah telah mengharamkan wanita musyrik kepada orang-orang yang beriman. Sementara aku tidak mengetahui suatu kemusyrikan yang lebih besar daripada seorang wanita yang mengatakan bahwa tuhannya adalah Isa, atau salah satudari hamba-hamba Allah’.”

An Nuhas berkata, “pendapat ini berbeda dengan pendapat segolongan orang yang ditopang oleh hujjah. Sebab ada segolongan orang baik dari kalangan sahabat maupaun tabi’in yang menyatakan bahwa menikahi wanita Ahlul Kitab adalah halal. Di antara orang-orang yang mengemukakan pendapat ini adalah utsman, thalhah, ibnu abbas, jabir dan hudzaifah. Sedangkan dari kalangan Tabi’in adalah Sa’id bin Al Musayyab, sa’id bin jubair, Al Hasan, Mujahid, Thawus, Ikrimah, AsySya’bi dan Adh Dhahak.

Para fuqaha dari berbagai daerah juga menganut pendapat ini. Selain itu, ayat dalam surah Al Baqarah ini merupakan hal pertama yang diturunkan di Madinah, sedangkan ayat dalam surat Al Maa’idah adalah hal terakhir yang diturunkan disana. Sehingga ayat yang terakhir turun dapat menasakh ayat yang lebih dulu, (bukan sebaliknya).

  1. Hukum Menikahi wanita Musyrik

Allah berfirman :

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

…Dan dihalalkan mengawini wanita-wanita yang menjaga kehormatan diantara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu (Al-Maidah, 5; 5)

Hikmah yang terkandung dalam peraturan ini ialah , agar para ahli kitab dapat melihat bagaimana kita memperlakukan seorang istri, dan betapa mudahnya syariat agama kita. Seorang lelaki ialah pemimpin, pelindung dan penguasa bagi wanita. Apabila ia memperlakukan istrinya dengan perlakuan yang baik, maka hal ini merupakan bukti bahwa agama islam mengajak terhadap keadilan dan kesadaran dalam berMua’amalah serta sikap berlapang dada terhadap orang yang berselisih agama.

Adapun kawinnya seorang lelaki ahli kitab dengan permpuan muslimah, menurut Nas Sunnah dan Ijma’ kaum muslimin haram hukumnya. Hal ini seperti yang diketahui, ditambahkan seorang istri tidak mempunyai hak sebagaimana yang dimiliki oleh seorang suami. Oleh sebab itu faedah yang telah diuraikan diatas tidak akan bisa terujud, mengingat kekuasaan seorang suami jauh labih besar daripada seorang istri. Dikhawatirkan ia akan menyimpangkan dan merusakkan akidah isrtinya.

Allah telah menjelaskan larangan menikahi orang musyrik baik lelaki maupun perempuan, melalui ayat :

أُوْلَئِكَ يَدْعُوْنَ إِلَى النَّارِ

Sesungguhnya sudah menjadi kebiasaan orang musyrik baik lelaki maupun wanita, selalu mengajak kepada hal yang menyebabkan masuk neraka baik melalui ucapan maupun perbuatan. Dalam hal ini ikatan perkawinan merupakan sarana yang paling kuat utnuk menpengaruhi jiwa seseorang. Dan saling memberikan kemudahan dalam banyak hal, merupakan landasan dalam berumah tangga. Dalam keadaan seperti ini tidak mustahil akidah syirik bisa masuk ke dalam jiwa mukmin dan mukminah, tanpa disadari melalui berbagai macam Syubhat dan penyesatan. Orang musyrik menyembah sesembahan selain Allah. Akan tetapi mereka tidak menamakan perbuatan ini sebagai ibadah. Mereka bahkan mengistilahkan perbuatan ini dengan memohon Syafat dan Tawassul (perantaraan). Mereka mengambil tuhan dan sesembahan selain Allah kemudian menyebutnya dengan Wasilah dan perbuatan Syafaat. Mereka juga mengira bahwa dengan mengganti nama bisa merubah hakikat sesuatu sebagaimana firman Allah swt :

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?”[678] Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). (Yunus, 10: 18)


[1] Syekh al qurtubi. tafsir al Qurtubi. Hlm. 143

[2] KH. Qamaruddin Saleh, dkk. Asbabun Nuzul Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat Al-Qur’an. Hlm 214,